Friday , 29 August 2014
Marhaban bikum
[Hadits Rutin] Memuliakan Tamu

[Hadits Rutin] Memuliakan Tamu


Assalamu’alaykum warrohmatullohi wabarokatuh

Keluarga kajian dimana pun berada, mari kita singgah sebentar yuk untuk menyimak beberapa hadist dibawah ini berkaitan dengan Memuliakan Tamu. Hadist ini diambil dari kitab Riyadhus shalihin karangan Imam Nawawi :

Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tamunya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah mempereratkan hubungan kekeluargaannya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah mengucapkan yang baik ataupun berdiam diri saja – kalau tidak dapat mengucapkan yang baik.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Syuraih yaitu Khuwailid bin ‘Amr al-Khuza’i r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tamunya, yaitu jaizahnya.” Para sahabat bertanya: “Apakah jaizahnya tamu itu, ya Rasulullah?” Beliau s.a.w. bersabda: “Yaitu pada siang hari dan malamnya. Menjamu tamu yang disunnahkan secara muakkad atau sungguh-sungguh ialah selama tiga hari. Apabila lebih dari waktu sekian lamanya itu, maka hal itu adalah sebagai sedekah padanya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat Muslim disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda: “Tidak halal bagi seseorang Muslim jikalau bermukim di tempat saudaranya – sesama Muslim, sehingga ia menyebabkan jatuhnya saudara tadi dalam dosa.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimanakah tamu dapat menyebabkan dosanya tuan rumah.” Beliau s.a.w. bersabda: “Karena tamu itu berdiam di tempat saudaranya sedang tidak ada sesuatu yang dimiliki saudaranya tadi untuk jamuan tamunya itu,” lalu tuan rumah mengumpat tamunya, melakukan dusta dan lain-lain.

Subhanalloh, indahnya Islam penuh dengan keteraturan dalam beretika terutama terhadap tamu dan kita saat menjadi tamu. Selamat mengaplikasikan.

Scroll To Top
Birthday