Seikat Sapu Lidi
Debu yang terbawa angin lalu menempel di lantai dalam waktu lama, tanpa disadari menumpuk dan mengotori lantai sehingga merubah warnanya, yang sebelumnya keramik putih bersih sekarang berubah menjadi kotor dan hitam. Begitu juga pekarangan tanpa pembersihan dalam kurun waktu lama telah terkotori dengan tumpukan dedaunanan yang gugur. Manusia memiliki fitrah mencintai keindahan dan selalu ingin bersih kembali seperti sebelumnya.
Mengikuti fitrahnya melihat semua yang telah berubah menjadi tidak lebih baik dari sebelumnya menimbulkan pergerakan untuk merubahnya kembali bersih seperti sedia kala. Perubahan itu secara utuh tidak dapat dilakukan sendiri, dan semuanya membutuhkan kerja sama atau amal jama’i. Melihat lebih jauh lagi akan arti kebersamaan seperti sebatang lidi, tak akan ada artinya. Debu yang menumpuk dilantai, mungkin bisa dihilangkan dengan sebatang lidi, tetapi prosesnya akan lama dan ia tak kan bertahan lama karena bisa patah ditengah jalan sebelum mengembalikan warna keramik seperti sedia kala dan pekarangan bebas dari daun-daun yang gugur.
Indahnya kebersamaan sangat berarti dalam mencapai satu tujuan yang sama untuk mengukir kebaikan hingga pertemuan di syurgaNya. Sebatang lidi yang berkumpul dan punya fungsi yang sama sebagai alat pembersih menjadi mudah menjalankan fungsinya dan tujuan membersihkan menjadi sedia kala segera terselesaikan. Seikat sapu lidi itu kemudian menggantungkan kepada pemiliknya ingin difungsikan sebagai apa, dan dalam perjalanannya sapu lidi akan berguna ketika digunakan sesuai fungsinya. Diilustrasikan seperti seikat sapu lidi akan sangat berguna membersihkan beratus-ratus daun kering yang mengotori pekarangan jika disertai keinginan kuat si pemiliknya untuk memfungsikan sesuai fungsinya, berbeda dengan adanya beratus-ratus ikat sapu lidi, kalau si pemiliknya tidak mendayagunakan sebagaimana mestinya maka tak ada gunanya beratus-ratus ikat sapu lidi itu.
Sejarah telah mengajarkan kita akan rasa kebersamaan serta keyakinan akan suatu kemenangan yang disertai tujuan tulus menegakkan kalimat Allah dan membela agamaNya, walaupun jumlahnya sedikit dan tidak sebanding dengan pasukan musuh. perang Badar telah membuktikannya, ketika itu pasukan muslim berbanding 1:3 dengan pasukan kaum Quraisy, disana ada rasa tawakal dan kita melihat bagaimana ada rasa putus asa pada doa kekasih kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala.
“…Ya Allah, jika Engkau berkehendak (orang kafir menang), Engkau tidak akan disembah. Ya Allah, jika pasukan yang kecil ini Engkau binasakan pada hari ini, Engkau tidak akan disembah…..”
Kekasih kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang-ulang do’a ini sampai selendang beliau tarjatuh karena lamanya berdo’a, kemudian datanglah Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memakaikan selendang beliau yang terjatuh sambil memeluk beliau… “Cukup-cukup, wahai Rasulullah…”
Di saat rasa keputus asaan itu menyelimuti, Allah SWT meneguhkan Beliau dalam firmannya.
“Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.” (Qs. Al Anfal: 12-13).
Sesungguhnya didalam rasa kesendirian dan keputusasaan, ada Allah subhanahu wa ta’ala yang maha dekat, dan begitu yakin akan janjiNya maka rasa sedih sesungguhnya tak akan menghampiri.
Sekalipun merasa sendiri ibarat sebatang lidi yang membutuhkan lainnya untuk saling mengokohkan ada Allah yang lebih menguatkan dari apapun. Kekuatan itu yang akan mengajak lidi-lidi lainnya untuk berkumpul hingga menjadi seikat yang bermanfaat untuk digunakan sesuai fungsinya. Itulah keberkahan atas keyakinan iman bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tak meninggalkan hambanya yang beriman dan bertaqwa untuk sendirian.
Belajar dari hikmah perang Badar bahwa kebersamaan dengan keyakinan yang kuat walaupun jumlahnya sedikit, ia akan membuahkan keberkahan yang berlimpah yang ketika sendiri tak bisa kita dapatkan. Seikat lidi yang dibuat menjadi sapu sesungguhnya membutuhkan pengguna, sehingga ia dapat bermanfaat. Dalam perkumpulan beratus-ratus ikat sapu lidi, di sana juga ada beratus-ratus pengguna yang memiliki tujuan sama menggunakan sapu lidi untuk memebersihkan pekarangan yang luas hingga bersih dan dapat dinikmati semua orang. Proses pembersihannya juga dibawah satu kendali kepala kebersihan, jika diantara pengguna sapu lidi itu tidak melakukan tugasnya dan tidak mematuhi kepala kebersihan maka jumlah yang beratus-ratus itu tak akan dapat membersihkan pekarangan dengan cepat.
Perang Uhud juga mengajarkan kita akan arti kebersamaan dan loyalitas. Pada perang Uhud jumlah pasukan yang beratus-ratus tidak menghasilkan kemenangan melawan kaum Quraisy. Tetapi dari perang Uhud adanya seleksi alami dari Allah Subhanallahu wa ta’ala, siapakah yang benar-benar berjuang di jalanNya. Beginilah pernak-pernik kebersamaan, dari sebuah lidi yang menjadi seikat lalu digunakan sebagaimana mestinya menjadikan tujuan utama lebih ringan untuk dilakukan, semoga setiap pernak-pernik yang ada menambah hikmah untuk kita semakin indah dan penuh berkah menjalani kehidupan ini.
Shortlink:







