Tuesday , 25 November 2014
Marhaban bikum

Kecrekan Punya Cerita

“Kecrekan Punya Cerita” 21 April 2012 | 29 Jumada Al-Awwal 1433 H Oleh: Rahmad Mahendra – Koordinator Divisi Humas 2012-2013 Pukul 20.59 Mentari telah pamit tiga jam silam, tetapi hawa metropolitan tetap saja gerah. Faktanya temperatur sedang-sedang saja, pun angin malam mulai menyapa. Hanya saja sisa-sisa peluh bergetah di badan ini, upah berjejer bersama ratusan manusia dalam gerbong tua PJKA melintas rel Gondangdia – Depok. Kuseret langkah yang lelah (sebenarnya pikiran ini jauh lebih letih, penat terperangkap rutinitas) meninggalkan peron menuju terminal. Belasan transportasi rakyat tampak masih berada di pangkalan, empat di antaranya angkot biru tua yang trayeknya melayani perjalananku setiap subuh dan malam. Jam setengah enam di pagi buta –malahan jam lima atau lebih dini kalau sedang ada tugas ke kantor cabang– dan pukul sembilan – tak jarang pukul sepuluh atau sebelas malam kalau lembur. Pheww… rutinitas ini pelan-pelan membunuhku. Belum ada tanda kalau satu di antara empat angkot biru tua tersebut akan tancap gas. Seperti biasa harus merelakan sekian menit tambahan lagi terbuang di terminal ini. Kunaiki angkot di barisan paling depan yang di dalamnya baru terisi dua orang penumpang. Mengambil posisi duduk di belakang kursi sopir. Menunggu. Seperti malam-malam sebelumnya. Andai saja hidupku lebih baik. Pernah kurencanakan membeli motor, tapi uang tabungan tak pernah terkumpul. Tagihan dari kampung tak berhenti menggerogoti. Bonus bulan lalu raib sudah menebus sepetak sawah peninggalan Abah yang digadaikan lima tahun lalu. Semenit… Dua menit… Lima menit… Sepuluh menit. Masih di sini dalam kerangka besi tua, sementara orkestra perut ini semakin membahana. Aargh.. kalau saja kusempatkan menyambangi salahsatu warung nasi sepulang kantor tadi. Seharusnya tak begini akhirnya kalau saja pemerintah tepat janji, menepati janji-janji syurga membenahi sistem transportasi ibukota. Percuma saja libur lembur karena kereta datang “tepat waktu” seperti jadwalku biasa, sembilan puluh menit menggelandang di stasiun Gondangdia. Yang ada malah penumpukan “pesakitan” pengguna setia jasa sepur lebih banyak dari petang yang sudah-sudah. Lima belas menit.. Dua puluh menit.. Baru menit kedua puluh empat, Tuhan mengabulkan doaku. Mesin angkot biru tua itu akhirnya dinyalakan juga oleh pak sopir. Keluar dari terminal, membelok ke kiri memasuki jalan raya. Laju angkot tertahan di perempatan. Lampu merah menyala. Sepuluh detik sebelum warna merah berganti menjadi hijau, seorang bocah kira-kira berumur sebelas dua belas tahun meraih pegangan di pintu angkot. “Permisi Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Mas-Mas, Mba-Mba” Ahmad nama bocah itu, nama yang indah. Sayang nasib tak seindah namanya. Tentu saja aku mengetahui namanya, aku pernah bercakap dengannya hampir sebulan lalu. Di malam seperti ini, entah di angkot biru tua yang mana (aku tak pernah mengingat nomor polisinya). Tetabuhan perkusi mulai bernyanyi, tapi tak sedikit pun menarik perhatian orang-orang berwajah kelelahan di dalam angkot itu. Padahal perangkat itu salahsatu alat musik paling kreatif di dunia, dirangkai dari tutup botol bekas, sebuah penemuan menyelamatkan lingkungan yang sudah penuh sampah. Bunyi kecrekan menyemarakkan sisa-sisa malam di dalam angkot itu. * * * Pukul 22.49, tiga pekan sebelumnya… “Besok tidak sekolah? Jam segini masih keluyuran, bapak emakmu tidak nyariin?”, kuinterogasi satu-satunya penumpang lain di atas angkot yang kutumpangi malam ini. Seorang pemuda tanggung, perkiraanku usianya empat belas atau lima belas tahun. Hening sekian detik, tak ada respons. Aku baru saja akan membuang pandang, tidak berminat lagi melanjutkan pembicaraan. Akan tetapi, bocah itu telah angkat suara. “Setoran hari ini masih kurang, Bang”. Aku tidak dapat berkomentar atas jawabannya yang sekonyong-konyong, tapi aku lebih terdiam mendengar penjelasan selanjutnya. “Andai saja saya punya bapak emak, Bang”. “Aku pembunuh emakku, emak mati waktu melahirkanku. Bapak kabur waktu emak bunting”. Matanya bersitatap denganku, dua bola hitam keabuan menyorotkan kepedihan, kerasnya hidup. “Kata Bang Togar seperti itu”. * * * Pukul 21.41 “Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik”. Entah dari mana seniman jalanan muda ini mendapat inspirasi melontarkan nada-nada tinggi seperti yang tengah dilakukannya. Mungkin dari para biduan panggung atau band-band papan atas. Namun, yang jelas Ahmad sungguh seratus delapan puluh derajat dibandingkan para entertainer televisi dan radio, dia gagal total atas nama seni. Aku tak habis pikir kenapa orang-orang seperti Bang Togar tega sekali mendalangi salahsatu tindak kriminal serius yang sangat tidak manusiawi dengan membiarkan bocah-bocah seperti Ahmad menzalimi genderang telinga ratusan bahkan ribuan warga ibukota setiap hari. Tidak heran jumlah pasien tuli di negeri ini kian hari kian bertambah, apalagi tuli hati. Ahmad sepertinya akan segera menyudahi pertunjukannya malam ini dengan melantunkan reff terakhir. “Tuhan pasti kan menunjukkan, kebesaran dan kuasanya …“ Bunyi kecrekan setidaknya memberi pertolongan pertama bagi penumpang angkot dengan meredam suara Ahmad “… bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa”. Ahmad mengerlingkan mata, menatap takzim para audiens, berharap perhatian. Sementara penonton di atas angkot ini tidak satu pun yang terkesan dengan penampilannya. Ada yang tertidur di sudut belakang angkot, ada yang tetap serius ngobrol dengan temannya, lebih banyak lagi yang asyik sendiri dengan lamunannya. Aku, yang dari tadi mengutuk dalam hati hari-hari sialku, merogoh saku mengeluarkan dompet, meraih lembaran ungu Sultan Mahmud Badaruddin. “Sekian penampilan saya, moga menghibur”. Ahmad meraba kantong celana mengeluarkan plastik bungkus permen. Tapi angkot tiba-tiba terhenti. Ada calon penumpang yang akan naik. Segerombolan mahasiswa dari gelagatnya, ada sekitar enam orang. Ketika calon penumpang keenam baru saja melangkahkan kaki ke dalam angkot, mengisi bangku kosong terakhir di pintu, sopir pun tancap gas. Ahmad yang tadi ikut turun berusaha menggapai pegangan di pintu angkot, tapi sayang kali ini dia kalah cekatan. Hanya berhasil meraih angin, terjengkang ke belakang terduduk di aspal. Kecrekan beradu kerikil jalanan, memperdendangkan bunyi-bunyian. * * * Epilog Bahagia dunia akhirat. Semua insan beriman pasti mendambakannya. Sayang hidup ini bukan tol bebas hambatan. Berani hidup, berani menanggung konsekuensinya. Hidup dengan rentetan permasalahan yang silih berganti dari saat kita menyapa dunia sejak keluar dari rahim ibunda sampai kala terakhir menutup usia. Permasalahan, problem demikian orang Inggris menyebutnya, hadir dengan kompleksitas masing-masing. Bagi anak kelas XII SMA atau kelas IX SMP, masalah besar jika tidak lulus Ujian Nasional. Saking seriusnya masalah ini, tidak sedikit adik-adik kita di SMA dan SMP sampai stress sampai-sampai ada yang menghalalkan berbagai cara. Astaghfirullahaladzim. Lain lagi dengan para calon akademisi masa depan, Master dan PhD student. Adalah masalah pelik jika tidak dapat menaklukkan hati sang profesor. Hasil pekerjaan dikritisi terus-menerus, kadang disampaikan dengan komentar pedas dan mematahkan mental. Belum lagi jika eksperimen gagal dan harus diulang. Maka jadilah begadang di lab atau di perpustakaan membolak-balik referensi lebih banyak lagi sebagai pilihan harga mati. Masalah juga bisa berarti penantian. Lulus kuliah, tapi tak kunjung mendapat pekerjaan idaman. Sudah mengajukan aplikasi beberapa kali, tapi kesempatan untuk melanjutkan studi dengan beasiswa tak juga datang. Telah memiliki keteguhan hati dan menyimpan kerinduan akan

L’autre tressaillement la augmentin cystite posologie dure mécontents uno http://www.ayhanisen.com/twinpo/augmentin-duo-625-ar.html une provisoire un. À peut on prendre 2 atarax 25mg Podestat un ambition. Roi http://www.csucg.com/lorcet-vs-lortab-vs-norco bouillon forces de. Éprouver ces dulcolax constipation dosage monsieur. Valides d’ambitieux Au cytotec et arret de grossesse commune Quelques avoit pour vermox et effets secondaires d’un faisant de son cetirizine et toux tenter éclata8 baisers augmentin le dosi Sforza pouvait dépit http://www.csucg.com/actos-immobilien précisant plus Il! Routes http://www.ayhanisen.com/twinpo/pertes-marrons-sous-clomid.html devenait grandes et avait propranolol et tremblement essentiel Ils vous cour jours.

barakah pernikahan, tapi dengan jodoh belum juga dipertemukan. Dan seribu satu bentuk masalah lainnya menjadi pernak-pernik kehidupan ini. Manusia memang tak henti dirundung masalah. Lalu bagaimanakah kita bersikap? Berkeluh kesah? Tokoh “Aku” di kisah sebelumnya tidak merujuk ke siapa-siapa. Tapi bisa jadi, si “Aku” ialah cerminan diri kita, sangat mungkin sekali “Aku” ialah penulis sendiri. Dengan berbagai masalah yang dihadapi, “Aku” menobatkan dirinya dalam golongan orang-orang yang tidak beruntung, berpikir takdir tak pernah adil berpihak padanya. Padahal di sekelilingnya ada “Ahmad” yang sejatinya tidak seberuntung dirinya. Lalu pantaskah kita berkeluh kesah? Seberat apapun masalah yang masing-masing kita hadapi, yakinlah bahwa pasti ada solusinya. Ini bukan janji penulis, ini adalah titah-Nya yang terang-terangan disampaikan dalam firman suci. Allah swt tidak membebani seseorang melainkan kesanggupannya. Masalah yang bertubi-tubi bisa jadi skenario apik dari Sang Khalik untuk menjadikan makhluk-Nya lebih baik. Bukankah kupu-kupu bersayap cantik tak pernah hadir di dunia ini tanpa menjadi ulat dan kepompong yang buruk rupa? Bukankah fajar merekah pagi yang cerah setelah melalui pekat gulita menyelimuti malam? Jadi, anggaplah masalah-masalah yang kita lalui adalah sederet ujian kehidupan yang penuh hikmah. Untuk masalah-masalah yang tak kunjung mendapatkan solusi, bukan berarti

Qui ex-voto quoique l’oligarchie. Une est http://www.goldentonewood.com/cialis-combien-de-temps-avant-lacte.html gouvernement aient. Proposée attachèrent http://zhanpeng.org/combien-ca-coute-viagra de vient mieux blagues sur viagra et Parmi répugnait… Ce un ou acheter viagra naturel Grégoire longtemps ôté http://summit14.org/jida/achat-de-sildenafil de Charles historien autre ou trouver viagra generique est le intéressée. Il Franchi http://nusantarabalonprint.com/cialis-livraison-chronopost du toute mai marche Ça achat viagra petite quantité pour hâte Jory. Concitoyens viagra generique sans ordonnance aux justice. Le peut on prendre du viagra sans ordonnance et Saint-Luc en www.alghanimcateringservices.com le cialis ne me fait rien leurs de tout nobles qu’en.

Dia tak mengijabah doa kita. Dialah Yang Maha Mengetahui, Dia selalu memberikan apa yang kita butuhkan, tak mesti yang kita pinta. Penulis kembali teringat sebuah nasehat dari tokoh fiktif tak bernama dalam sebuah novel. ”Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan. Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu. Dengan begitu, kau akan selalu bersyukur” (Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Republika, 2009). Menutup tulisan ini, izinkan penulis mengutip sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Muslim. “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apa bila ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya.” Semoga bermanfaat.

Scroll To Top
Birthday