Kerudung Mungil

Kerudung Mungil
8 Juni 2012 | 18 Rajab 1433 H
Oleh: Muhammad Irfan Abdul Azis – Anggota Divisi Humas 2012-2013

“Mas Iyas gak tampil?” tanyaku kepada anak kecil seusia Sekolah Dasar yang ada di sampingku. Aku memanggilnya ‘Mas’ karena dia mempunyai adik.

“Nanti,” jawabnya singkat.

“Kok, Maya pakai kerudung?” tanyaku lagi, rasa penasaran yang bertemu keisengan kembali meluncur dari bibirku.

“Ya, kan memang seragamnya begitu.” Lagi-lagi anak lelaki itu menjawab dengan singkat.

Oo… Dalam batin ku tersenyum dan terenyuh. Tak berapa lama datang temanku yang membuyarkan lamunanku. Teman yang tadi sempat aku ajak berkomentar tentang anak-anak kecil perempuan yang berkerudung itu. Mereka anak-anak perempuan yang biasanya tak berkerudung. Bahkan sebagian orang tuanya pun tak berkerudung. Tapi malam itu, malam tahun baru, mereka semua berkerudung.

Memang lebih mengherankan, karena ini malam tahun baru, bukan malam acara-acara keislaman, yang bisa jadi ujung telusur benak pikirku tentang latar pengenaan kerudung mungil itu.

“Mungkin disuruh sama Oma-nya.” Aku meracik kemungkinan. Memang ada anak yang sedang dikunjungi oleh neneknya, dan neneknya itu berjilbab serta punya semangat pemahaman agama. Mungkin itu alasannya, batinku.

Tapi, ternyata bukan anak itu seorang yang berkerudung. Anak-anak lainnya juga berkerudung. Jadi, mungkin ada alasan lain. Dan alasan lain itu yang lebih valid aku dapatkan dari jawaban anak lelaki kecil bernama Iyas.

“Bukan disuruh, tapi itu memang kostum untuk mereka tampil nanti.” Selorohku kemudian kepada sang teman. Ia hanya senyum-senyum saja. Menertawakan dugaan positif kami yang ternyata salah.

Ah, anak-anak kecil dengan kerudung mungilnya itu terlihat lebih imut dan menyenangkan. Wajah mungil berkerudung itu menjadikan suasana sesaat menjadi adem. Tak hanya anak kecil, ada pula remaja putri yang turut tampil menggunakan kerudung. Mereka tampak lebih cantik memang. Mereka semua akan tampil mementaskan koreografi dengan latar musik Kantata Takwa.

Selepas pementasan, saat mereka kembali duduk di bangku penonton. Kerudung para remaja putri pun terenggut. Anak-anak kecilnya memang masih dengan kerudung mungil, mungkin kerudung tersebut sekaligus sebagai penghangat baju mereka. Ujung tahun yang bertepatan dengan masuknya musim dingin di sub kontinen membuat mereka harus rela melapisi tubuhnya dengan baju yang lebih tebal. Ah, kenapa aku berprasangka seperti itu. Apakah karena prasangka-prasangkat positifku sering terbantahkan.

Tidak. Aku harus tetap berprasangka positif. Mungkin mereka memang nyaman dengan kostum kerudung itu, dan kelak meminta kepada mamanya untuk selalu dikenakan. Atau malah sebaliknya, sang mama yang meminta mereka tetap mengenakannya agar terlihat lebih ’cerdas dan imut’.

Mungkin itu prasangka positif yang hendaknya selalu kita biakkan. Terlebih sebagai da’i, tidakkah seharusnya selalu punya harapan positif dan tidak berputus asa.

Shortlink: