Singgah Seketika Hanya Sekedar Menyapa Dunia

20 Juli 2012 | 2 Ramadhan 1433 H
Oleh: Astri Olivia Herlino – Koordinator Divisi Kreatif 2012-2013
4 Juni 2012
Awan kelam membumbung tinggi di angkasa sore itu, seolah mengerti apa yang dirasakan hatiku. Muka kucel dan mata sembab menghiasi wajahku. Pikiranku melayang tak menentu. Tapi… aku harus tetap mengayuh sepeda ini sampai tempat magang karena hari ini merupakan hari pertama aku official magang dikampusku. Ditemani rintikan hujan kulalui perjalanan ini tanpa ada rasa semangat untuk memulai aktifitas pada hari ini.
Di sela rintihan hujan, ku teringat kembali awal perjumpaanku dengannya.
***
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” QS 109:6.
Ayat di atas merupakan salah satu ayat suci yang aku jadikan prinsip untuk melangkahkan kaki ini kemanapun aku pergi. Ayat ini pula yang kubawa ketika menginjakkan kaki di tanah Eropa, dimana kita semua tahu bahwa di benua ini mayoritas dihuni oleh orang-orang yang bukan seagama dengan kita. Tetapi, alhamdulillah dengan salah satu prinsip yang selalu kupegang ini mempermudah untuk berkomunikasi maupun berinteraksi dengan orang-orang disini, baik orang Eropa maupun orang pendatang lainnya, termasuk orang Indonesia.
***
September 2011
Pertama aku berjumpa dengannya, perempuan asal Nepal, yang entah mengapa aku merasa nyaman dengannya. Ia bernama Gina. Saat itu kami mengambil matakuliah yang sama dan ternyata teman sekamarku, Rina, juga mengenalnya karena mereka berasal dari negara yang sama.
Jika dilihat dari karateristiknya, masing-masing kami memiliki karakter yang berbeda, Gina sangat dewasa dan bijak ketika menghadapi masalah atau apapun itu. Ia sangat keibuan dan menjadi sosok kakak perempuan bagiku dan Rina. Dan Rina bisa dibilang cukup serius dan pemikirannya cukup rumit. Sedangkan aku sangat bertolak belakang dengan mereka, kata mereka aku orangnya santai, ceria dan riang apalagi paling suka usilin si Rina, habis orang nya serius banget sih, hehehe. Tapi alhamdulillah dengan perbedaan ini yang bukan hanya dari karakteristik, tetapi berbeda juga dalam keyakinan (agama), pertemanan kami berjalan dengan baik.
Alhamdulillah, pertemanan kami berlanjut tidak hanya dikampus, kami sering melakukan aktifitas bersama di luar kampus. Yang pastinya semua sudah tau, kalau perempuan sedang kumpul tidak jauh dari aktivitas masak-masak dan makan-makan.
November 2011
Pertengahan bulan ini Aku dan Rina mendapat undangan makan malam dirumah Gina dan suaminya. Tanpa berpikir panjang aku mengiyakan undangan tersebut karena mereka vegetarian. Makan malam pun berlangsung ditemani perbincangan ringan yang diliputi canda dan tawa menghangatkan malam yang bersuhu -3°C. Yang kurasakan pada saat itu adalah hangatnya pertemanan. Waktu pun mengakhiri perbincangan kami, sudah waktunya aku dan Rina untuk pulang.
Sambil berpamitan menuju pintu keluar, tiba-tiba Gina menghentikan langkahku dan Ia berkata “Olivia… Aku hamil!”
Dengan wajah terkejut bercampur gembira. Aku tersenyum lebar yang terlihat jelas di wajahku. Kulayangkan pelukkan kepada kakak perempuanku asal Nepal ini. Setelah 3,5 tahun pernikahannya akhirnya Allah mengarunia seorang anak. Ribuan pertanyaan kulontarkan kepada Gina, sampai aku tersadar kalau Rina hanya tersenyum disampingku.
Dengan wajah curga kulihat Rina yang berdiri disampingku, tetapi dia membalasnya dengan senyuman manis dengan lesung pipi yang bertengger diwajahnya.
“Kamu sudah tau ya berita bahagia ini?” tanyaku ke Rina.
Dengan tertawa kecil ia membalasnya “Hehehe…. Iya!”
Malam pun berakhir dengan perasaan bahagia yang dirasakan oleh semua; Gina, suaminya, Rina, dan tentu saja Aku.
4 Mei 2012
Seperti biasa, malam sabtu aku mengikuti tadarus online via skype bersama teman-teman Radio PPI Dunia yang dimulai pada pukul 22.00 WIB. Setelah 1 jam tadarus berlangsung Rina mendapatkan telepon dari Gina bahwa ia sedang berada di Rumah Sakit (RS) dan akan segera melakukan persalinan. Dengan perasaan sangat bahagia aku dan Rina langsung bergegas ke RS.
Di dalam bis menuju RS, ada suatu hal yang mengusik pikiranku, tanpa berpikir panjang aku langsung menanyakan hal ini kepada Rina “Rina… bukannya Gina akan melahirkan pada akhir Mei? Mengapa sekarang? Bukannya waktu lahirnya lebih cepat 4 minggu ya?”
“Iya Olivia, tadi Gina bilang di telepon, ketika Ia periksa rutin pada hari ini, Ginekolog menyuruhnya untuk tinggal di RS dan segera melakukan persalinan, untuk lebih jelasnya bisa kita tanyakan kepada Gina dan suaminya” jawab Rina.
Kami pun terdiam dan berharap yang terbaik, semoga bayi dan sang ibu selamat dan dalam keadaan sehat wal’afiat.
Begitu tiba di RS, kami dipersilahkan masuk oleh suami Gina keruangan dimana Gina terbaring. Monitor kontraksi beserta alat deteksi sudah ada disekeliling Gina. Dengan wajah yang sangat lelah Gina masih memberikan senyuman hangatnya kepada kami. Gina terbaring lemah diatas kasur putih itu, padahal pada pagi hari itu ia masih beraktifitas seperti biasa dengan kondisi sehat bugar, tetapi akibat dari induksi yang diberikan oleh Dokter membuat Gina terbaring lemas malam itu.
“Hai Olivia… Warna bajumu ceria sekali?” sapa Gina.
“Iya dong… kan harus ceria, sebentar lagi dede bayi akan hadir, jadi harus disambut dengan ceria.” Sahutku dengan ceria.
Sambil menunggu persalinan suami Gina menjelaskan situasi yang terjadi. Ada kelainan pada bayi yang tidak terdeteksi pada masa kehamilan, kelainan ini baru terlihat pada hari ini ketika Gina melakukan check up rutin. Bayi yang ada dalam tubuh Gina mengalami stress dan kurang gerak, meskipun jika ditunggu sampai kelahiran yang pada umumnya 9 bulan 10 hari bayi tersebut tidak akan tumbuh. Dokter pun memutuskan untuk segera mengeluarkannya dan diusahakan untuk melahirkan normal dengan memonitor sang ibu dan bayi untuk menentukan waktu yang tepat untuk persalinan.
Aku dan Rina hanya terdiam oleh penjelasan yang dipaparkan suami Gina. Kami tidak tau apa yang harus kami lakukan. Sedih yang kami rasakan dan berusaha untuk tidak menampakkan kesedihan ini didepan mereka. Begitu tegar dan tabahnya pasangan suami-istri ini dan terlihat sangat jelas bagaimana mereka menghadapi situasi ini yang jauh dari keluarga, orang tua maupun sanak saudara. Tetapi, kasih sayang yang meliputi ruangan persalinan ini, menghangatkan hari mereka yang penuh lelah. Kami hanya bisa berdoa semoga persalinan berjalan dengan lancar dan sang ibu beserta bayinya selamat dan sehat.
Setelah aku dan Rina menunggu berjam-jam kapan persalinan ini akan dilakukan, tetapi tidak terasa bahwa jam di dinding hampir menunjukkan pukul 23.30 CET. Suami Gina pun meminta kami untuk pulang karena hari sudah malam dan bis yang berlalu-lalang sudah semakin jarang.
5 Mei 2012
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 08:00 CET, tetapi kabar itu belum kunjung tiba. Rasa khawatir dan cemas meliputi kami. Pesan suami Gina bahwa ia akan menghubungi kami hari ini dan menunggu sampai ia menghubungi kami. Akhirnya siang itu suami Gina menghubungi kami. Gina telah melahirkan melalui operasi sesar tadi pagi dan saat ini Gina sedang tertidur dan si bayi dalam ruangan Intensive Care Unit (ICU).
Bulan ini merupakan bulan yang terberat yang harus dilalui oleh pasangan suami-istri asal Nepal itu. Ternyata Allah masih memberikan cobaan bukan hanya pada masa persalinan melainkan cobaan lainpun datang secara beruntun kepada mereka. Tetapi Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Allah masih memberikan hati yang kuat kepada mereka, Allah masih memberikan orang-orang yang menyayangi dan memberi dukungan disekeliling mereka, dan bukan hanya itu saja Allah masih memberikan hal-hal lainnya yang membuat mereka mudah untuk melalui masa-masa ini.
3 Juni 2012
Waktu Subuh telah masuk, aku menyegerakan sholatku. Biasanya ketika musim panas setelah sholat Subuh aku beristirahat, tetapi entah kenapa aku tidak merasa nyaman untuk tidur hanya gelisah yang kurasakan. “Hmm… Ada apa ya?” pikirku.
“Kring… kring…” suara telepon genggamku berdering dan kulihat bahwa itu telepon dari Rina.
“Ada apa ya pagi-pagi buta Rina menelponku? Bukannya nanti sore ia sudah pulang? Hmm… mungkin ada sesuatu yang diperlukan kali ya?” batinku.
Langsung ku angkat telepon dari Rina. Saat itu Rina sedang di pulau Gotland karena ia harus menghadiri conference disana selama satu minggu.
“Olivia… kamu sudah bangung?” tanyanya dengan suara yang sangat terdengar jelas kalau Rina baru saja terbangun.
“Iya…” jawabku.
“Kamu bisa ke RS sekarang? Temani Gina dan suaminya.” lanjutnya.
“Iya bisa, memang ada apa Rina?” tanyaku.
“Mereka baru saja kehilangan putranya.” Jawab Rina.
Tersentak kaget aku mendengar berita ini. “Yang benar saja kamu? Bukannya kondisi bayi mereka membaik? Kenapa sekarang mendengar berita ini?” tungkasku.
“Aku juga tidak tau. Aku baru saja dihubungi suami Gina beberapa menit yang lalu.” jawabnya.
Aku segera ke RS, setibanya di RS suami Gina mengantarkan ku keruangan dimana sang bayi dirawat.
“Kami sangat kehilangan!” Ucap suami Gina dengan kesedihan yang sangat mendalam terpancarkan diwajahnya. Hanya kata-kata belasungkawa yang bisa kuucapkan kepadanya. Sepanjang jalan menuju ruangan, aku hanya bisa terdiam seribu bahasa, tidak tau apa yang harus kulakukan, pelupuk mataku pun sudah tidak kuat untuk menahan air mata yang dari tadi meminta untuk dialirkan.
Setibanya kami diruangan tersebut, kulihat Gina dengan mata sembab sedang duduk sendiri di atas kasur di samping tempat tidur sang bayi. Seketika Gina sudah dalam pelukkanku dan air mata pun mengalir tanpa bisa dibendung.
“Olivia, please! Kamu jangan menangis karena aku akan menangis lagi dan air mata ini sepertinya sudah habis dengan tangisan.” Pinta Gina sambil membasuh air mata yang mengalir di pipiku.
Sejurus kemudian Gina memperlihatkan jasad bayinya kepadaku. Dengan sekuat tenaga ku perintahkan air mata ini untuk tidak mengalir, setidaknya pada saat ini, saat aku bersama dengan Gina.
Aku tidak tau apa yang harus kulakukan dan aku pun tidak tau apa yang harus ku katakan, aku hanya bisa terdiam seribu bahasa. Saat ini Gina dan suaminya sedang menunggu Pendeta RS untuk membahas prosedur pemakaman. Tetapi sang Pendeta pun tak kunjung tiba karena hari ini adalah hari Ahad dan ada beberapa urusan lainnya yang harus diselesaikan sang Pendeta.
Suami Gina pun memulai pembicaraan “Bagaimana ujian akhir semestermu, Olivia?”
“Alhamdulillah sudah selesai, sudah ada beberapa yang keluar hasilnya dan yang lain masih menunggu,” jawabku.
“Bagaimana dengan thesis Rina? Apakah sudah selesai?” tanyanya.
“Belum, saat ini dia masih menulis dan defense-nya dalam satu pekan kedepan,” jawabku.
Percakapan sederhana seputar perkuliahan melunakkan suasana pagi itu. Akhirnya suami Gina menjelaskan apa yang terjadi satu minggu yang lalu. Berbagai tes telah dilakukan RS kepada si bayi dalam 3 minggu pertama dengan hasil yang cukup menyedihkan tetapi ada secercah harapan untuk si bayi. Salah satu tes yaitu FMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) dilakukan dua kali, hasil pertama tidak menunjukkan apa-apa, tetapi tes yang kedua menunjukkan bahwa salah satu bagian otak si bayi tidak berfungsi sama sekali dan ini menyebabkan fungsi organ tubuh menurun dan melemah.
Tiga hari yang lalu RS menghubungi Gina dan suaminya untuk tinggal bersama bayinya di RS karena sang Bayi bisa kapan saja pergi meninggalkan mereka dan dokter sudah angkat tangan. Secercah harapan itu pun sirna, sedih yang sangat mendalam ketika mendengar kabar tentang anak mereka. Hanya pasrah kepada Allah yang bisa mereka lakukan. Tetapi Allah Maha Adil, Allah Maha Penyayang. Allah masih sayang dengan pasangan ini. Kemarin kondisi si bayi membaik, Allah menghilangkan semua cobaan-cobaan yang diberikan kepada mereka. Mereka bertingkah seperti layaknya orang tua yang memilik bayi yang sehat. Si Ibu menyusui dan si Ayah memandikan, dan aktivitas lainnya. Si bayi pun bertingkah layaknya bayi normal, menangis, tertawa, ngompol dan pup. Karena lupa dengan situasi yang sebenernya, kedua orang tua ini pun lupa kalau mereka menggantikan pampers anaknya berkali-kali. Bahagia yang mereka rasakan pada saat itu. Allah masih memberikan kesempatan kepada mereka bagaimana merasakan menjadi orang tua.
Tetapi Allah berkehendak lain. Dini hari ini setelah Ibu menyusui bayinya, si Bayi tertidur lelap dipangkuan sang Ibu dengan senyuman manis yang diberikan kepada sang Ibu dan Ayah. Senyuman itu merupakan ucapan terima kasih dan selamat tinggal kepada kedua orang tua atas kasih sayang yang telah diberikan kepadanya.
***
Jika dilihat dari sepenggal kisah diatas malu rasanya diri ini, begitu berat cobaan yang dialami oleh pasangan ini. Mungkin bukan hanya kisah ini yang termasuk berat, masih banyak orang-orang diluar sana yang mengalami cobaan yang luar biasa beratnya. Tetapi, apakah Allah meninggalkan kita? hamba-hamba Nya? Tidak! Dalam setiap cobaan yang Allah berikan pasti dan selalu ada jalan bagaimana menghadapi cobaan tersebut. Dan Allah sangat paham sekali kemampuan kita dan tidak akan memberikan cobaan dibatas luar kemampuan kita. Sebagaimana yang telah di tuliskan dalam surat Al-Baqoroh ayat 286 bahwa sesungguhnya “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya“.
Janganlah kita sering mengeluh, jangalah kita merasa bahwa kita hanya seorang diri, janganlah kita berpikir bahwa hanya kita saja yang mendapatkan cobaan yang super duper beratnya. Lihatlah orang-orang yang ada disekeliling kita. Apakah kita tidak malu dengan keluhan-keluahan kita kepada Sang Pencipta?
Hadapilah segala cobaan itu dengan ikhlas, dengan sabar, dengan tawakkal dan lapangkanlah dada ini. Tersenyumlah, senyum akan meringankan semua beban dipundak. Ucaplah rasa terima kasih kita kepada Sang Khalik atas segala nikmat yang telah Ia berikan.
Selain itu, waktu didunia yang sangat singkat ini, apakah sempat kita bermusuh-mushan dengan orang lain? Apakah sempat kita melakukan kerusakan kepada diri kita? orang-orang sekitar kita? lingkungan kita? Apakah sempat kita melakukan hal-hal yang buruk dengan waktu yang sesingkat ini? Marilah kita gunakan kesempatan (waktu) yang singkat ini untuk memperbaiki diri, menjadi insan yang berusaha untuk menjadi lebih baik pada setiap detiknya.
Jika kita perhatiakan baik-baik. Apakah hanya orang yang beragama Islam saja yang mendapatkan kasih sayang dari Allah? Tidak! Allah sangat sayang sekali kepada hamba-hamba Nya meskipun hambanya tidak patut kepada-Nya, tidak bersujud kepada-Nya, congkak atas segala apa yang Ia dapatkan. Tetapi apakah Allah lupa dan meninggalakan hamba-hamba Nya?
Semoga kita termasuk sebagai hamba-hamba Nya yang tidak lupa untuk selalu bersyukur.
Shortlink:







