Friday , 25 July 2014
Marhaban bikum

Ayah, Jumpalah Kita Walau Hanya Dalam Mimpi

12 Oktober 2012 | 26 Dhul-Qadah 1433 H
Oleh: Wawan Kurniawan – Anggota Divisi Humas 2012-2013

Sejak aku memasuki Madrasah Ibtidaiyah atau paling tidak ketika aku mulai mempelajari dan mengenal agamaku sendiri, aku sangat ingat apa yang diajarkan oleh guru agamaku, sebuah nasihat yang penting yang terus tertanam dibenakku hingga kini.

“Surga itu dibawah telapak kaki ibu, siapa yang ia kehendaki maka akan dimasukkan dan siapa yang ia ingini maka akan dikeluarkan.” (Silsilah al-hâdîts adh-Dha’îfah, no. 593). Walau hadits itu dhoif (palsu/sangat tidak kuat sanadnya) tapi setidaknya itulah yang memotivasiku untuk terus berkarya untuk ibuku, dahulu kini dan nanti.

Begitupun dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anh berkata: Seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik – baiknya? Rasulullah menjawab: Ibumu. Kemudian dia bertanya lagi: Siapa lagi? Ibumu, pungkas Rasulullah. Kemudian dia bertanya kembali: Lantas, siapa lagi? Rasulullah menjawab: Ibumu. Dan dia bertanya lagi: Kemudian siapa lagi ya Rasulullah. Rasulullah menjawab: Ayahmu.

Banyak dalam terjemahan Alqur’an kata “walidain” itu diterjemahkan sebagai ibu bapakmu. Ibu dulu baru kemudian bapak. Aku pun berkesimpulan orang yang harus kuhormati terlebih dahulu adalah ibuku. Pun setelah aku mengenal ilmu lainnya, aku juga mengenal beberapa kata yang mengandung kata ibu.

Dalam Geografi, aku mengenal ibukota
Dalam Kimia, aku mengenal struktur ibu.
Dalam PPKN, aku mengenal ibu pertiwi
Dalam Biologi, aku mengenal ibu jari.
Banyak hal yang mensugestiku, untuk ada dalam pikiranku: Ibu, Ibu, Ibu dan Ibu….

Bagaimana dengan Sosok Ayah???
Lantas, bagaimana sosok ayah yang belum kukenal banyak, kupastikan aku memang jarang bertemu ayah dibandingkan intensitasku bertemu dengan ibu, lantaran ibuku ada dirumah, sedangkan ayahku bekerja diluar rumah dan pulang ketika kami telah sama–sama letih untuk berbicara satu sama lainnya.

Aku memang sejatinya belum terlalu mengenal ayahku seperti apa. Haruskah aku belajar 144 SKS atau sampai harus menempuh tingkat doktorkah untuk mengenal ayahku?

Ini, mungkin kesimpulanku tentang ayahku…
Mungkin ibu lebih kerap menelepon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku? Semasa kecil, ibukulah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tahu bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena saking letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku.

Saat aku sakit demam, ayah membentakku “Sudah diberitahu, Jangan minum es!” Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis didepan ibu. Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.

Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata “Tidak boleh!” Sadarkah aku, bahwa ayahku hanya ingin menjaga aku, beliau lebih tahu dunia luar, dibandingkan aku bahkan ibuku? Karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga.

Saat aku sudah dipercayai olehnya, ayah pun melonggarkan peraturannya. Maka kadang aku melanggar kepercayaannya. Ayahlah yang setia menunggu aku diruang tamu dengan rasa sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengontak beberapa temannya untuk menanyakan keadaanku, dimana, dan sedang apa aku diluar sana.

Setelah aku dewasa, walau ibu yang mengantar aku ke sekolah untuk belajar, tapi tahukah aku, bahwa ayahlah yang berkata: Ibu, temanilah anakmu, aku pergi mencari nafkah dulu buat kita bersama.

Disaat aku merengek memerlukan ini – itu, untuk keperluan kuliahku, ayah hanya mengerutkan dahi, tanpa menolak, beliau memenuhinya, dan cuma berpikir, kemana aku harus mencari uang tambahan, padahal gajiku pas-pasan dan sudah tidak ada lagi tempat untuk meminjam.

Saat aku berjaya. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Ayahlah yang mengabari sanak saudara, anakku sekarang sukses. Walau kadang aku cuma bisa membelikan baju koko itupun cuma setahun sekali. Ayah akan tersenyum dengan bangga. Dalam sujudnya ayah juga tidak kalah dengan doanya ibu, cuma bedanya ayah simpan doa itu dalam hatinya.

Sampai ketika nanti aku menemukan jodohku, ayahku akan sangat berhati – hati mengizinkannya. Dan akhirnya, saat ayah melihatku duduk diatas pelaminan bersama pasanganku, ayah pun tersenyum bahagia.

Lantas pernahkah aku memergoki, bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis? Ayah menangis karena ayah sangat bahagia. Dan beliau pun berdoa, “Ya Alloh, tugasku telah selesai dengan baik. Bahagiakanlah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya.”
Tahukah kalian, bahwa ayahlah yang pertama kali mempunyai rambut uban.

Kuakhiri tulisanku dengan sebuah bait lagu:
Dimana, akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku, selalu ingin bertemu
Untukmu, aku bernyanyi

Lihatlah, hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah, aku ingin bertemu
Untukmu, aku bernyanyi

Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Dengan airmata di pipiku
Ayah, dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau, hanya dalam mimpi.

Dalam kesendirianku, untuk ayahku di Pamulang sana…
@bie, Korea Selatan.

  • NUN

    subhanalloh, mas…saya sangat terharu membacanya…

    peluk cium untuk ayahanda tercinta

    • http://www.facebook.com/profile.php?id=1647511365 KURNIAWAN ADJA

      Semoga menjadi peringatan buat semua ya mbak nun… bismillah… ^^

  • UNI HENY

    MasyaAllah…

    Benar sekali apa yang abie tuliskan. tidak lah berbeda besar kasih sayang seorang ayah dan ibu, hanya mereka mengekspresikannya dengan cara yang amat berbeda. Semoga ALLAH senantiasa mengasihi ayah ibu kita, mengampuni kesalahan mereka dan memasukkan ayah ibu kita ke dalam syurgaNYA karena usaha mereka menjaga dan merawat kita melebihi mengasihi diri mereka sendiri. Aamiin

    • http://www.facebook.com/profile.php?id=1647511365 KURNIAWAN ADJA

      Terima kasih hajjah uni… saling mengingatkan buat semuanya….. ^^

  • THORIQ

    Terima kasih telah mengingatkan saya mas abie, sukses ya buat kuliahnya.

    saya juga merasa kurang mengenal ayah saya selama ini, mudah2an dengan tulisan mas ini saya jauh menyayangi ayah saya dengan sepenuh hati, kepada ibu juga saya lakukan hal yang sama. 

    • http://www.facebook.com/profile.php?id=1647511365 KURNIAWAN ADJA

      Terima kasih mas Thoriq atas komentarnya… Inshaalloh ya mas thoriq… semangat…
      salam kenal juga.

  • YUSMANILA

    subhaanalloh…jdi ingat sosok “ayah” tercinta…yg luarbiasa pengorbananny

    • http://www.facebook.com/profile.php?id=1647511365 KURNIAWAN ADJA

      Betul mbak…

    • http://www.facebook.com/profile.php?id=1647511365 KURNIAWAN ADJA

      Terima kasih mbak yusmanila, iya sosok ayah kadang terlupakan oleh kita, padahal beliaulah yang mencarikan nafkah sehingga kita besar seperti ini….

  • AZIZI

    Subhanalloh, tulisan mas abie inspiratif sekali buat saya, saya tunggu tulisan berikutnya ya mas…

    • http://www.facebook.com/profile.php?id=1647511365 KURNIAWAN ADJA

      Inshaalloh ya mas Azizi, kalo ada waktu dan inspirasi lagi… hahaha

  • http://www.facebook.com/profile.php?id=1647511365 KURNIAWAN ADJA

    Terima kasih atas komentar teman sekalian, yap. Kita terkadang lupa akan peran ayah dalam kehidupan kita selama ini, saya cuma mengingatkan saja baik kepada khalayak ramai maupun kepada diri sendiri. Ayo, temuilah ayah dan katakan ayah terima kasih atas selama ini….

  • http://about.me/gsaroso GTR SAROSO

    Mengharukan. Trims

    • http://www.facebook.com/profile.php?id=1647511365 KURNIAWAN ADJA

      Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua… berbaktilah kepada kedua orang tua…

  • MEYMEY

    Ya ALLAH baru smlm aku mmpi.n ayah’ stelah mmbaca smuanya pilu banget hati’y bagi mna pun ayah’ ayah ada lah pemimpin dikeluarga yank rela berkorban demi menafkahi istri & anank” nya
    Lindungi la ayah ya ALLAH berilah ayah kesehatn lahir dan batin smoga aku pulang bs slalu bersama ayah dan menjaga di masa tua’y ayah

  • ABDUL

    Lebaran sebentar lagi ku rindu hangat kebersamaan yg terpisahkan oleh takdir smoga doa2 ku selalu tersampaikan

Scroll To Top
Birthday