<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>RadioPengajian.com</title>
	<atom:link href="http://radiopengajian.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://radiopengajian.com</link>
	<description>Pertahankan iman di tengah sahara kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 May 2013 07:23:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>Jadi Hafidz Otak Kanan</title>
		<link>http://radiopengajian.com/2013/03/29/jadi-hafidz-otak-kanan/</link>
		<comments>http://radiopengajian.com/2013/03/29/jadi-hafidz-otak-kanan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Mar 2013 12:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiopengajian.com/?p=2211</guid>
		<description><![CDATA[Jadi hafizh otak kanan from rpengajian]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><iframe src="http://www.slideshare.net/slideshow/embed_code/17855736" width="427" height="356" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" style="border:1px solid #CCC;border-width:1px 1px 0;margin-bottom:5px" allowfullscreen webkitallowfullscreen mozallowfullscreen> </iframe>
<div style="margin-bottom:5px"> <strong> <a href="http://www.slideshare.net/rpengajian/jadi-hafizh-otak-kanan" title="Jadi hafizh otak kanan" target="_blank">Jadi hafizh otak kanan</a> </strong> from <strong><a href="http://www.slideshare.net/rpengajian" target="_blank">rpengajian</a></strong> </div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiopengajian.com/2013/03/29/jadi-hafidz-otak-kanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muhasabah Musibah Banjir Jakarta</title>
		<link>http://radiopengajian.com/2013/01/27/muhasabah-musibah-banjir-jakarta/</link>
		<comments>http://radiopengajian.com/2013/01/27/muhasabah-musibah-banjir-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jan 2013 07:09:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kreatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bingkai Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiopengajian.com/?p=2180</guid>
		<description><![CDATA[Seperti kita ketahui, pada awal tahun 2013 ini, DKI Jakarta, ibukota negara Republik Indonesia mengalami musibah banjir. Banjir yang cukup besar dibandingkan dengan banjir pada tahun &#8211; tahun sebelumnya. Allah telah berfirman dalam QS. Qaaf:9 bahwa terdapat keberkahan dari hujan yang turun, bahkan salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa adalah saat hujan turun. Tetapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://radiopengajian.com/wp-content/uploads/2013/01/bundaran-HI-Jakarta-banjir.jpg"><img src="http://radiopengajian.com/wp-content/uploads/2013/01/bundaran-HI-Jakarta-banjir-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-2181" /></a></p>
<p>Seperti kita ketahui, pada awal tahun 2013 ini, DKI Jakarta, ibukota negara Republik Indonesia mengalami musibah banjir. Banjir yang cukup besar dibandingkan dengan banjir pada tahun &#8211; tahun sebelumnya.  Allah telah berfirman dalam QS. Qaaf:9 bahwa terdapat keberkahan dari hujan yang turun, bahkan salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa adalah saat hujan turun. Tetapi untuk saat ini, hujan merupakan hal yang cukup ditakuti di Jakarta karena akan menyebabkan banjir, kemanakah keberkahan tersebut? </p>
<blockquote><p>“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi (mubaarak)…”(QS. Qaaf : 9).</p>
</blockquote>
<p>Semua pihak berusaha untuk menanggulangi dan juga mencari penyebab utama dari musibah ini. Beberapa pihak menyampaikan pendapatnya mengenai penyebab banjir, diantaranya tata kota yang kurang baik, terlalu banyak penduduk, kurangnya lahan/daerah <em>drainase</em>, pengolahan sampah yang kurang baik, bendungan yang sudah tidak bisa menampung air, dsb. </p>
<p>Sebagai umat muslim dan juga warna negara Indonesia, kita harus dapat mengambil hikmah dari musibah ini. Kita harus meyakini dan menyadari bahwa musibah atau bencana terjadi atas ijin Allah, seperti yang telah tercantum di QS. At-Taghābun:11,</p>
<blockquote><p>Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. At-Taghābun 11)</p>
</blockquote>
<p>
Mungkin pertanyaan selanjutnya, mengapa Allah memberikan musibah ini? Kita harus bermuhasabah. Allah telah berfirman dalam QS Yunus:23, salah satu penyebab musibah adalah kezaliman atau perbuatan dosa.</p>
<blockquote><p>Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Yunus:23)</p>
</blockquote>
<p>
Allah juga telah berfirman dalam QS Ar Rum: 41 dan QS Ash-Shūraá 30, bahwa musibah disebabkan karena perbuatan manusia itu sendiri.</p>
<blockquote><p>Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar Rum: 41)</p>
</blockquote>
<blockquote><p>Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS Ash-Shūraá 30)</p>
</blockquote>
<p>
Kita dapat menyimpulkan dari ayat &#8211; ayat tersebut, bahwa penyebab diturunkannya musibah, diantaranya adalah karena kezaliman manusia dan perbuatan manusia itu sendiri. Manusia sebagai khilafah di muka bumi memiliki dua tugas utama yaitu memakmurkan bumi dan memeliharanya. Memakmurkan bumi dengan cara membangunnya, dan yang harus diingat pembangunan yang dilakukan seharusnya bukanlah hanya pembangunan secara fisik melainkan juga harus bersinegis dengan pembangunan secara rohani. Peradaban dan akhlak yang sudah dibina sepatutnya terus diperlihara agar tetap kokoh, bukan dirusak.</p>
<p>Musibah banjir Jakarta bukan hanya merupakan musibah bagi warga Jakarta tetapi musibah bagi semua umat muslim dan warga negara Indonesia, merupakan salah satu peringatan dari Allah. Mari kita jadikan ini sebagai kesempatan bermuhasabah bagi diri kita untuk selalu memperbaiki diri, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai saat ini juga dan jangan lupa untuk selalu membantu saudara &#8211; saudara kita.</p>
<blockquote><p>&#8220;tiada henti-hentinya Allah memenuhi kebutuhan seseorang selama orang itu memenuhi kebutuhan saudaranya&#8221; (HR Thabrani)</p></blockquote>
<p><em>
<p>Artikel ini merupakan ringkasan hasil diskusi sekelompok muslimah di atas bumi Allah terhadap musibah banjir Jakarta. Gambar diambil dari <a href="http://www.dakwatuna.com/2013/01/27115/langkah-yang-perlu-dilakukan-ketika-banjir-mengepung-negeri/">sini</a> </p>
<p></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiopengajian.com/2013/01/27/muhasabah-musibah-banjir-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberilah Meskipun Kekurangan</title>
		<link>http://radiopengajian.com/2012/12/16/memberilah-meskipun-kekurangan/</link>
		<comments>http://radiopengajian.com/2012/12/16/memberilah-meskipun-kekurangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Dec 2012 18:05:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kreatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bingkai Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kado dari Kru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiopengajian.com/?p=2162</guid>
		<description><![CDATA[2 November 2012 &#124; 17 Dhul-Hijjah 1433 H Oleh: Hajriyanti Yatmar &#8211; Anggota Divisi Penyiaran 2012-2013 Bismillahirrahmanirrahim… Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh, Ku awali tuilsan ini dengan kisah pemimpin wanita syurga, putri kesayangan baginda Rosul, dari keluarga nan kekurangan di jaman Rosululloh. Adalah kisah Fatimah Az-Zahra putri Baginda Rosul yang kemudian membina rumah tangganya dengan Ali R.A [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://radiopengajian.com/wp-content/uploads/2012/12/Edit-Buat-Tulisan-ACC.jpg"><img src="http://radiopengajian.com/wp-content/uploads/2012/12/Edit-Buat-Tulisan-ACC-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" class="alignleft size-medium wp-image-2163" /></a></p>
<p>2 November 2012 | 17 Dhul-Hijjah 1433 H<br />
Oleh: Hajriyanti Yatmar &#8211; Anggota Divisi Penyiaran 2012-2013</p>
<p>Bismillahirrahmanirrahim…<br />
Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Ku awali tuilsan ini dengan kisah pemimpin wanita syurga, putri kesayangan baginda Rosul, dari keluarga nan kekurangan di jaman Rosululloh. Adalah kisah Fatimah Az-Zahra putri Baginda Rosul yang kemudian membina rumah tangganya dengan Ali R.A dari titik minus alias berutang. Rumah tangga mereka benar-benar pelik dan bisa dikatakan fakir miskin. Dua status ini yang kemudian melekat pada keluarga beliau, akan tetapi status ini tak sedikitpun mengurangi kemuliaan mereka di sisi Allah. Saat kehidupan duniawi yang terasa menghimpit dan mengusik kehidupan rumah tangga beliau. Sebagai seorang wanita, tentunya keluh kesah terhadap keluarga terdekat adalah salah satu jalan untuk menghadapi permasalahan hidup. Beliau kemudian meminta kepada Sang Ayah tercinta dengan mata penuh kasih sayang:</p>
<p>“Wahai ayahku, berikanlah aku khadimat (pembantu)….”</p>
<p>Sebagai seorang perempuan yang di tengah kesempitan hidup, tentu akan senantiasa berusaha mencari jalan untuk bisa memenuhi keperluan rumah tangganya. Suami beliau Ali RA yang hanya kuli penimba air di sumur zam-zam tak banyak membantu memenuhi keperluan rumah tangga beliau. Bahkan saat mereka bercengkerama setelah seharian bekerja dan saling curhat tentang pekerjaan, isinya adalah kesulitan dalam mencari nafkah. Berikut penuturan keluarga mulia ini:</p>
<p>“Wahai suamiku, aku sangat lelah seharian menggiling gandum untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita,” ungkapnya mesra dengan suami beliau. Akan tetapi yang ditanya justru curhat dengan hal yang lebih pedih lagi.</p>
<p>“Aku juga lebih parah dari itu wahai isteriku, lenganku hampir putus setelah menimba air seharian.”</p>
<p>Mereka berdua saling berkisah dengan pekerjaan masing-masing. Dari urusan inilah Fatimah mencari jalan untuk kemudian mencoba meringankan beban hidup keluarganya. Mengajukan permohonan khadimat kepada Ayahanda tercinta Rosullulloh SAW. Namun, apakah permintaan ini dikabulkan?</p>
<p>“Wahai, anakku Fatimah. Maukah kutunjukkan satu permintaan yang lebih mulia dari seorang khadimat?.</p>
<p>Rosul menatap wajah anaknya lekat-lekat dan melanjutkan tuturnya,</p>
<p>“Maka bertasbilah pada Allah dengan kalimat Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaha illallohu Allohu Akbar Wa lilla Ilhamd sebanyak 33 kali”.</p>
<p>Seketika Fatimah terdiam dan dengan mata berkaca menatap sang Ayah. Beliau kembali dengan tidak membawa khadimat tapi seolah membawa seluruh isi bumi dan langit kedalam rumahnya. Teringat satu nasyid dari seorang munsyid terkenal yang melantunkan semesta bertasbih yang bahkan alam raya pun turut memuji Alloh. Kemudian Fatimah mengamalkannya disaat beliau melakukan aktifitasnya dan bahkan disaat menggiling gandum. Dan dikisahkan pula bahwa, gandum yang digilingnya ikut bertasbih bersama Fatimah.</p>
<p>Di tengah kesulitan dan kondisi yang bahkan sangat berkekurangan, tak mengurangi sedikit pun kesungguhan beliau dalam beramal dan mempersembahkan yang terbaik.</p>
<p>Kisah lain yang tertoreh sangat indahnya dalam sejarah, kisah istri Rosul yang sangat dermawan. Menyamak kulit sapi menjadi bahan pakaian serta kerajinan sulaman kemudian menjualnya dan menginfakkannya di jalan Alloh. Adakah pernah terbesit dalam benak kita menjadi penginfak terbesar dengan hasil keringat kita sendiri? Jika tidak, maka ku jawab “inilah obsesiku!” Menjadi seperti Zainab binti Jahsy.</p>
<p>Jika melihat jauh kebelakang tentang sejarah yang pernah tertoreh begitu indah yang digambarkan oleh Rosul dan sahabat serta sahabiyah. Mereka saling memberi bahkan saat mereka kekurangan, sebut saja kisah tentang seorang Ansor yang memuliakan tamunya dengan sebaik-baik akhlak.</p>
<p>Suatu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW. Ia bermaksud meminta bantuan kepada Nabi karena sedang dalam kesusahan. Rasulullah kemudian menyuruh laki-laki itu untuk menemui salah satu istrinya. Maka istri Rasul berkata, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, aku tidak mempunyai apapun kecuali air.” Mendengar itu, Rasul menyuruh laki-laki itu kepada istri beliau yang lain. Ternyata, hasilnya sama. Istri Rasulullah hanya punya air.</p>
<p>Rasul kemudian bersabda di hadapan para sahabat, “Siapa yang mau menjamu tamu pada malam ini?” Seorang laki-laki dari kaum Anshar menyanggupinya. “Aku, ya Rasul.” Orang Anshar ini lalu membawa laki-laki tersebut ke rumahnya.</p>
<p>Sesampai di rumah ia berkata kepada istrinya, “Wahai istriku, muliakanlah tamu Rasulullah ini. Apakah engkau punya sesuatu?” Istrinya menjawab, “Tidak, kecuali makanan anak-anak kita.”</p>
<p>Mendengar jawaban istrinya, orang Anshar ini tidak lantas mengusir sang tamu. Ia berpesan kepada istrinya, “Hiburlah mereka (anak-anaknya). Jika mereka mau makan malam maka tidurkanlah. Jika tamu kita sudah masuk, matikanlah lampu dan perlihatkan kepadanya seolah-olah kita sedang makan.”</p>
<p>Tamu itu pun datang. Mereka semua duduk. Tamu itu pun makan dalam keadaan gelap. Orang Anshar dan istrinya menemani sang tamu, seolah-olah sedang makan pula. Akhirnya sahabat Anshar dan istrinya itu tidur dalam keadaan lapar.</p>
<p>Ketika waktu Subuh, sahabat Anshar ini menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perbuatannya. Nabi pun berkata, “Allah sungguh takjub karena perbuatan engkau bersama istrimu tadi malam pada saat menjamu tamu.” (Mutafaq alaih)</p>
<p>Begitu pentingnya memberi, sehingga dalam Al-Quran terdapat banyak perintah mengenai amalan utama ini. Misalnya dalam Qur&#8217;an Surat Ibrahim ayat 31:</p>
<p>“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang beriman, hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi maupun terang-terangan, sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual-beli dan persahabatan.”</p>
<p>Pernah sekali saat berada di supermarket, adikku membeli eskrim yang sangat ia inginkan. Ketika tiba di parkiran motor untuk kembali ke rumah, seorang anak kecil mendekat menengadahkan tangan. Segera ia menatap wajah anak perempuan itu dengan senyum dan dengan ringannya memberikan eskrim setelah merengek tiga hari sebelumnya meminta untuk dibelikan. Maka, kukatakan pada diriku saat itu:</p>
<p>“Adikku, dirimu membuatku kembali bersemangat untuk mengejar obsesiku menjadi Zainab binti Jahsy”.</p>
<p>Memberilah walaupun kekurangan, karena sejatinya kita tidak berada dalam kekurangan, yang ada hanyalah membagikan rezeki yang tertitip di kita kepada orang lain. Dan sungguh ketika bentuk kesyukuran memberi adalah di saat sempit dan lapang, bukankah Alloh telah menjanjikan kepada kita dengan menambah nikmatNya saat kita memberi?</p>
<p>Memberilah walaupun kekurangan, kedengarannya tak mudah. Namun dapat kita wujudkan, karena penyesalan kan selalu berada di akhir. Saat kita di hentakkan oleh waktu yang seketika berhenti dan menimbang segala apa yang telah kita perbuat.</p>
<p>Memberilah meskipun kekurangan. Tak kan ada henti untuk memberi, tak harus dengan materi, tapi juga ilmu, tenaga, pikiran, dan senyum.</p>
<p>Ya Robb, teguhkan dan buat ikhlas serta sabar dalam menjalaninya.</p>
<p>Ya Robb, bukankah pintu syurga-Mu begitu banyak dan salah satunya adalah pintu memberi?</p>
<p>Ya Robb, semoga kami semua dapat berkumpul dengan saudara-saudara kami kelak dalam sebuah majelis bersama Rosulullah, sampai-sampai diri ini berimajinasi dan takjub. Majelis yang lingkarannya tak berujung namun ajaibnya, kita semua dengan seksama dapat saling melihat wajah Rosul yang sering dikatakan oleh para sahabat seperti bulan purnama. Serta dapat saling bercengkerama menimba ilmu dengan para sahabat dan sahabiyah secara langsung.</p>
<p>Ya Rosul, rindu ini teramat sangat untuk dapat bertemu denganmu. Namun apakah kemudian yang dapat kita katakan saat bertemu? Mungkinkah? Insyaalloh, aamiin! Tak tau dapat bertemu atau tidak, namun kita hanya dapat bermimpi dan berprasangka bahwa kelak Alloh dapat mempertemukan kita semua. Dan jazakillahu khoir kepada Uni Heny, salah satu Kru Radio Pengajian Dot Com, yang telah menyampaikan salam rinduku untuk Rosul secara langsung di tempat pemberhentian terakhir beliau. Semoga kelak dapat mengikuti jejak Uni, menjejakkan kaki di gurun pasir dan menyelami jejak-jejak Rosul yang tertoreh begitu indahnya di bumi Alloh.</p>
<p>Semoga kita semua dapat bertemu dalam majelis ilmu kelak di syurgaNYA Alloh. Aamiin.</p>
<p>Alhamdulillahirobbilalamin, semoga manfaat.</p>
<p>Wassalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh.</p>
<p>#Cyl, di Sudut Mihrab dalam Munajat PadaMu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiopengajian.com/2012/12/16/memberilah-meskipun-kekurangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merengkuh Angkuh</title>
		<link>http://radiopengajian.com/2012/11/29/merengkuh-angkuh/</link>
		<comments>http://radiopengajian.com/2012/11/29/merengkuh-angkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2012 20:10:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kreatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bingkai Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kado dari Kru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiopengajian.com/?p=2152</guid>
		<description><![CDATA[10 November 2012 &#124; 25 Dhul-Hijjah 1433 H Oleh: Aida Nursidah, Ssi &#8211; Anggota Divisi Program 2012-2013 &#8220;Barang siapa yang menghendaki kebaikan terhadapnya, maka Allah akan memberinya ujian (HR Bukhari)&#8221; Ucapan Rasulullah SAW itu seakan-akan menyemangati saya, acapkali ujian datang kepada saya. Tentunya ini tidak mudah, sudah ditimpa kesedihan, lantas harus berpikiran positif kepada Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://radiopengajian.com/wp-content/uploads/2012/11/gambar-merengkuh-angkuh-aida.jpg"><img src="http://radiopengajian.com/wp-content/uploads/2012/11/gambar-merengkuh-angkuh-aida.jpg" alt="" width="500" height="333" class="aligncenter size-full wp-image-2154" /></a></p>
<p>10 November 2012 | 25 Dhul-Hijjah 1433 H<br />
Oleh: Aida Nursidah, Ssi &#8211; Anggota Divisi Program 2012-2013</p>
<p><em><strong>&#8220;Barang siapa yang menghendaki kebaikan terhadapnya, maka Allah akan memberinya ujian (HR Bukhari)&#8221;</strong></em></p>
<p>Ucapan Rasulullah SAW itu seakan-akan menyemangati saya, acapkali ujian datang kepada saya. Tentunya ini tidak mudah, sudah ditimpa kesedihan, lantas harus berpikiran positif kepada Allah SWT. Namun sejatinya, saya menyadari bahwa ujian adalah sebuah keniscayaan bagi orang-orang yang terpilih di jalan Allah SWT. Sebagaimana dikisahkan pada banyak sirah zaman Rasulullah SAW.</p>
<p>Alkisah  dari sahabat Khabab bin Al-art, beliau sempat menyampaikan keluh kesahnya kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, tak bisakah Engkau berdoa kepada Allah SWT untuk meringankan ujian dan derita bagi umat islam?” </p>
<p>Maka Rasulullah bersabda,  “Sungguh telah terjadi pada orang-orang sebelum kalian, seorang lelaki diambil lantas ditanam dalam tanah. Dalam keadaan seperti itu, kemudian didatangkan gergaji yang diletakkan di atas kepalanya. Maka (akibat digergaji) jadilah kepalanya terbelah dua. Lantas tubuhnya disisir dengan sisir yang terbuat dari besi hingga mengelupas daging dari tulangnya. Namun demikian, tidaklah hal itu menjadikan dia terhalang dari agamanya (dia tetap kokoh dalam agamanya). Sungguh Allah  akan menyempurnakan agama ini hingga orang yang berkendaraan tidak merasa takut, kecuali hanya kepada Allah, saat melintas dari Shan’a ke Hadramaut. Begitu pula tanpa takut serigala akan memakan kambingnya. Akan tetapi kalian bersikap tergesa-gesa.” (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Sebagai manusia biasa tentunya kita layak untuk berkeluh kesah. Namun dalam setiap episode keluh kesah itu, acapkali kesabaran adalah penawarnya. Bahkan sering dikatakan bahwa sabar adalah bagian dari keimanan kita. Sebagaimana yang Rasulullah SAW katakan pada saat itu. Jika kaum muslimin tidak diuji sedemikian rupa, bagaimana kita bisa menjadi orang yang sabar dan melenggang menuju surga-Nya. </p>
<p>Rasanya terlalu naif, jika kita menggambarkan ujian yang kita hadapi sama dengan apa yang telah kaum muslimin terdahulu lampaui. Meskipun memang tidak bisa dipungkiri banyak saudara kita masih berjuang untuk menjaga akidahnya, mempertahankan keislamannya, berikut ujian-ujian fisik yang menerpanya. Saudara-saudara kita yang sedang terjajah di Negeri Palestina, teraniaya di Suriah, dan terusir di Rohingya. </p>
<p>Lalu bagaimana dengan kita? Ujian kekurangan harta, pergesekan dengan sahabat-sahabat di organisasi, masalah sakit hati, ego pribadi, bahkan sekedar iri dan dengki. Apa layak kita bandingkan dengan mereka yang berjuang di zaman dan tempat yang berbeda?</p>
<p>Terkadang perasaan-perasaan kecil yang membesar itu terlampau kita pikirkan. Sehingga mengikis ruang gerak kita untuk berjuang di jalan Allah SWT. Padahal pastinya begitu banyak masalah umat yang lebih besar yang lebih layak kita pikirkan. Saya pribadi sebagai mahluk “biasa” mengakui. Bahwa diantara kawan yang saya temui, tak jarang beberapa diantaranya berubah menjadi lawan. Seringkali saya menjumpai, kawan yang sangat egois, pemarah, cepat tersinggung, susah diambil hati dan sejejeran sifat buruk yang pernah saya keluhkan suatu hari. (Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni saya!). Padahal saya pribadi belum tentu baik di mata mereka bukan?</p>
<p>Sebagai sahabat, terkadang malah jadinya berkebalikan. Saya belajar dari si egois menjadi sosok yang peka terhadap orang lain, saya belajar memaafkan orang lain dari si pemarah, saya belajar menjaga perasaan dari si mudah tersinggung. Aah rasanya, begitu banyak kebesaran hati kita bergaul dengan ragam karakter orang yang demikian. Bukankah begitu banyak hal positif yang layak kita raih dari mereka?</p>
<p>Karenanya, butuh kiranya kita semua sadari. Masalah sebesar apapun jadikan pembelajaran dalam diri. Anggap saja ini adalah sebuah tantangan yang harus kita lewati dalam kancah kehidupan ini. Sekadar kisah yang mewarnai cerita kita di hari ini.</p>
<p>Selalu saja pelajaran sabar mewarnai episode kisah ujian kita di hari ini. Namun percaya apa tidak, semua kisah itu akan menjadi indah di kemudian hari. Mengajari kita banyak hal, memperbanyak amalan baik kita di mata Allah SWT, karena hanya dengan sabar keimanan kita akan bertambah. Dan yang paling penting adalah merengkuh angkuh kita, untuk menjadi pribadi yang lebih indah di mata Allah dan tawadhu di depan sesama.<br />
Laa tahzan, Innallaaha ma`ashoobirin…..<br />
-edisi menasihati diri sendiri-</p>
<p>Sumber foto: http://notalone99.blogspot.kr/2011_11_01_archive.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiopengajian.com/2012/11/29/merengkuh-angkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits &#8211; Baik dan Halal Syarat Diterimanya Do&#8217;a</title>
		<link>http://radiopengajian.com/2012/11/08/hadits-baik-dan-halal-syarat-diterimanya-doa/</link>
		<comments>http://radiopengajian.com/2012/11/08/hadits-baik-dan-halal-syarat-diterimanya-doa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Nov 2012 09:17:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kreatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bingkai Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits Tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiopengajian.com/?p=2120</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai makhluk yang diciptakan sebagai kholifah dan hidup berdampingan di dunia ini, banyak sekali perihal dan masalah yang dihadapi manusia. Kesulitan mendapat pangan, pakaian, uang dan pekerjaan menjadi pokok permasalahan utama terjadinya tindak kejahatan. Kesulitan mendapat pekerjaan yang halal memaksa orang untuk mencari yang mudah dan instan yaitu dengan cara yang haram yang dilarang oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h6><a href="http://radiopengajian.com/wp-content/uploads/2012/03/Hadits1.png"><img class="aligncenter" src="http://radiopengajian.com/wp-content/uploads/2012/03/Hadits1.png" alt="" width="480" height="210" /></a></h6>
<p>Sebagai makhluk yang diciptakan sebagai kholifah dan hidup berdampingan di dunia ini, banyak sekali perihal dan masalah yang dihadapi manusia. Kesulitan mendapat pangan, pakaian, uang dan pekerjaan menjadi pokok permasalahan utama terjadinya tindak kejahatan. Kesulitan mendapat pekerjaan yang halal memaksa orang untuk mencari yang mudah dan instan yaitu dengan cara yang haram yang dilarang oleh Allah dan RasulNya.<br />
Dalam kehidupan ini, sangat banyak manusia yang rela mengotori tangannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara cepat dan tidak baik, seperti mencuri, merampok, bermain curang, mengurangi berat timbangan dan lain sebagainya.<br />
Bagaimana amal perbuatan orang yang demikian akan diterima, bagaimana doanya akan dikabulkan dan diterima jika yang ia makan, minum dan yang ia pakai berasal dari yang tidak baik?</p>
<p>Berikut adalah dalil dari hadits Rasulullah SAW agar kita slalu mendapatkan segala sesuatu dari yang baik-baik.</p>
<p>عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم :<br />
&#8220;إنّ الله طيّب لا يقبل إلاّ طيّبا, و إنّ الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين فقال الله تعالى :<br />
(يا أيّها الرّسل كلوا من الطّيّبات واعملوا صالحا : المؤمنون 51) وقال تعالى:<br />
(ياأيّها الّذين آمنوا كلوا من طيّبات ما رزقناكم : البقرة : 172)<br />
قمّ ذكر الرّجل يطيل السّفر أشعث أغبر يمدّ يديه إلى السّماء يا ربّ يا ربّ, ومطعمه حرام, ومشربه حرام, وملبسه حرام,<br />
وغذي بالحرام, فأنّى يستجاب له&#8221;<br />
(رواه مسلم)</p>
<p><strong>Terjemah hadits / ترجمة الحديث :</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah R.A berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW :<br />
“Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para Rasul, maka Allah SWT telah berfirman : (“Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih” : Al-Mukminun : 51) dan Allah SWT telah berfirman (“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu” : Al Baqoroh : 172) Kemudian beliau menceritakan sebuah kisah laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut dan berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a “Wahai Tuhan, Wahai Tuhan”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan makanan yang haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan doanya?” (Hadits Riwayat Muslim)</p>
<p><strong>Keterangan hadits :<br />
</strong><br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shohih Muslim, Kitab : Zakat<br />
Bab : &#8221; قبول الصّدقة من الكسب الطّيّب&#8221;<br />
Nomor hadits : 1015<br />
Dan diriwayatkan juga oleh Imam Tirmidzi dalam kitab sunannya,<br />
Kitab : Tafsir<br />
Bab : &#8220;باب ومن سورة البثرة&#8221;<br />
Nomor hadits : 2992</p>
<p><strong>Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :</strong></p>
<p>Pentingnya hadits ini adalah hadits ini merupakan salah satu hadits dari hadits-hadits yang menjadi pokok kaidah islam dan pondasi hukum islam, ia merupakan dasar dan pegangan dalam urusan halal dan haram. Selain itu, hadits ini sangat besar manfaatnya dalam menciptakan masyarakat muslim yang masing-masing individunya mencintai apa yang dimiliki saudaranya sama seperti mencintai apa yang dimilikinya, begitupula sebaliknya membenci apa yang dibenci saudaranya sama seperti apa yang dibencinya. Dan menciptakan masyarakat yang berpegang pada prinsip dan tidak melanggar batas-batas syariah islam serta mencukupkan segala sesuatu dengan yang baik-baik saja sehingga dapat hidup dengan tenang dan sejahtera.</p>
<p>Kata طيّب berarti baik, إنّالله طيّب berarti Allah baik atau bersih dari segala kekurangan. طيّب juga merupakan salah satu nama Allah dari asmaul husna.<br />
Hadits ini berisi anjuran membelanjakan sebagian dari harta yang halal dan melarang membelanjakan harta yang haram.</p>
<p><strong>Fiqih hadits :</strong></p>
<p>1. Yang baik itu yang diterima<br />
Yang dimaksud dalam hadits tentang segala sesuatu yang baik meliputi Amalan, Uang atau Harta, Perkataan dan Keyakinan. Artinya, Allah SWT tidak menerima amalan kecuali amalan itu baik dan bersih dari segala kerusakan seperti riya’, berlebih-lebihan dan lain sebagainya.<br />
Begitu pula Allah SWT tidak menerima harta yang tidak halal atau shodaqoh dari harta yang tidak halal, Allah SWT juga tidak menerima perkataan yang tidak baik.</p>
<p>2. Bagaimana amal perbuatan itu dikategorikan baik dan diterima<br />
Salah satu penyebab terbesar baik tidaknya atau diterimanya suatu amalan itu tergantung pada tempat dan cara mengerjakannya atau memperolehnya. Dalam hadits menunjukkan bahwa amalan atau perbuatan tidak akan diterima kecuali dari yang baik atau halal, sedangkan haram malah merusak kualitas amal perbuatan itu dan menjadikannya tidak diterima Allah. Dalam hadits juga menunjukkan Allah telah memerintahkan kepada Rasul-rasulnya dan mukminin untuk memakan segala sesuatu dari yang baik-baik/halal dan juga beramal sholeh.</p>
<p>3. Kisah laki-laki yang melakukan perjalanan jauh untuk ibadah dan berdoa tetapi ia makan dari yang tidak halal<br />
Maksud dari kisah ini adalah menggambarkan seseorang yang menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan ibadah seperti haji atau jihad akan tetapi ia makan dan minum dari hasil yang tidak halal, kemudian ia berdoa dengan menengadahkan tangannya. Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan sedangkan ia bukanlah orang yang layak??<br />
Salah satu keutamaan dalam berdoa adalah do’a dalam bepergian, doa orang yang sedang melakukan perjalanan insya Allah akan dikabulkan atau mustajab tanpa keraguan. Mengangkat kedua tangan ketika berdoa adalah adab dalam berdoa yang baik yang dianjurkan, dan Rasulullah sendiri mengangkat kedua tangan ketika berdoa, Allahpun akan malu jika ada seorang hamba yang berdoa dengan mengangkat kedua tangan tapi tak ada balasannya. Kedua hal ini ada pada lelaki yang melakukan perjalanan jauh itu, akan tetapi doanya dikotori karena makanan, minuman, dan pakaian yang ia dapat berasal dari yang tidak halal. Bagaimana mungkin orang yang semacam itu perbuatannya akan dikabulkan do’anya?<br />
Akan tetapi, Allah SWT boleh saja mengabulkan doanya sebagai tanda kemurahanNya, kasih sayangNya, dan pemberianNya. Wallahu A’lam</p>
<p><strong>Ayat yang berkaitan dengan hadits :</strong></p>
<p>يا أيّها الرّسل كلوا من الطّيّبات واعملوا صالحا : المؤمنون 51<br />
(“Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih” : Al-Mukminun : 51)</p>
<p>ياأيّها الّذين آمنوا كلوا من طيّبات ما رزقناكم : البقرة : 172<br />
(“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu” : Al Baqoroh : 172)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiopengajian.com/2012/11/08/hadits-baik-dan-halal-syarat-diterimanya-doa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendidik Anak Akrab dengan Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://radiopengajian.com/2012/10/21/mendidik-anak-akrab-dengan-al-quran/</link>
		<comments>http://radiopengajian.com/2012/10/21/mendidik-anak-akrab-dengan-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2012 16:15:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[notulensi]]></category>
		<category><![CDATA[Slide Siaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiopengajian.com/?p=2108</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<object type='application/x-shockwave-flash' wmode='opaque' data='http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?id=14820919&doc=mendidikanakakrabdenganal-quran-121021061733-phpapp01' width='425' height='348'><param name='movie' value='http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?id=14820919&doc=mendidikanakakrabdenganal-quran-121021061733-phpapp01' /><param name='allowFullScreen' value='true' /></object>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiopengajian.com/2012/10/21/mendidik-anak-akrab-dengan-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SINTAQ (tahSIN Tilawah Al-Qur’an) – IV bersama Ustadz Hartanto Saryono Lc-Mengenal Huruf Arab</title>
		<link>http://radiopengajian.com/2012/10/17/sintaq-tahsin-tilawah-al-quran-iv-bersama-ustadz-hartanto-saryono-lc-mengenal-huruf-arab/</link>
		<comments>http://radiopengajian.com/2012/10/17/sintaq-tahsin-tilawah-al-quran-iv-bersama-ustadz-hartanto-saryono-lc-mengenal-huruf-arab/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2012 15:31:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[notulensi]]></category>
		<category><![CDATA[Slide Siaran]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiopengajian.com/?p=2100</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><object type='application/x-shockwave-flash' wmode='opaque' data='http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?id=14768168&doc=mengenalhurufarab-121017102757-phpapp02' width='425' height='348'><param name='movie' value='http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?id=14768168&doc=mengenalhurufarab-121017102757-phpapp02' /><param name='allowFullScreen' value='true' /></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiopengajian.com/2012/10/17/sintaq-tahsin-tilawah-al-quran-iv-bersama-ustadz-hartanto-saryono-lc-mengenal-huruf-arab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Proses Haji</title>
		<link>http://radiopengajian.com/2012/10/16/proses-haji/</link>
		<comments>http://radiopengajian.com/2012/10/16/proses-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2012 06:44:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kreatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bingkai Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kado dari Kru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiopengajian.com/?p=2098</guid>
		<description><![CDATA[7 Oktober 2012 &#124; 21 Dhul-Qadah 1433 H Oleh: Fitria Heny &#8211; Anggota Divisi Program 2012-2013 Begitu rindunya saya ingin bertamu ke rumah Allah ini. Rindu ingin melihat ka’bah secara langsung bahkan menyentuhnya secara langsung. Rindu ingin merasakan pengalaman bunda Hajar berjuang hidup dengan sang anak. Rindu ingin merasakan ketenangan batin dan kenikmatan beribadah seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://www.onislam.net/english/oimedia/onislamen/images/mainimages/kabah.jpg" class="aligncenter" width="550" height="358" /></p>
<p>7 Oktober 2012 | 21 Dhul-Qadah 1433 H<br />
Oleh: Fitria Heny &#8211; Anggota Divisi Program 2012-2013</p>
<p>Begitu rindunya saya ingin bertamu ke rumah Allah ini. Rindu ingin melihat ka’bah secara langsung bahkan menyentuhnya secara langsung. Rindu ingin merasakan pengalaman bunda Hajar berjuang hidup dengan sang anak. Rindu ingin merasakan ketenangan batin dan kenikmatan beribadah seperti cerita yang selalu saya dengar dari mereka yang baru pulang dari haji.</p>
<p>Mereka mengatakan, bahwa di sana kita tidak ingat akan dunia ini; tidak ingat dan tidak dipusingkan oleh pekerjaan, keluarga, istri, suami, anak, dan urusan keduniawian lainnya. Kita hanya fokus untuk beribadah pada Allah SWT. Iri sekali pada mereka yang bercerita dengan wajah <em>sumringah</em>, suka cita, dan selalu mengatakan jika ada kesempatan mereka ingin berkunjung kembali ke Baitullah.</p>
<p>Rasa Iri dan rindu begitu menggumpal dalam dada, sehingga saya <em>azzam</em>-kan dan berdo’a pada Allah bahwa saya ingin ke Mekkah sebelum usia saya 40 tahun. Saya ingin mengunjungi Baitullah pada usia yang masih muda, saat fisik masih kuat, dan otak belum terlalu tumpul untuk menghafal dan mencerna syarat serta rukun haji. Saya juga ingin melaksanakan haji bersama dengan suami dan tidak ingin menyimpan uang terlalu lama di bank untuk urusan ini karena satu dan lain hal. Intinya saya ingin berkunjung ke Baitullah secepatnya sebelum usia 40 tahun bersama suami, entah dari mana uangnya. </p>
<p>Kesempatan itu datang pada tahun 2008/2009 saat di buka pendaftaran TKHI (Tenaga Kerja Haji Indonesia). Alhamdulillah pada saat itu, tenaga medis yang bukan PNS atau tidak berdinas di RS pemerintah boleh mendaftar untuk seleksi. Saya sampaikan keinginan ini pada suami, seperti biasa beliau tidak melarang tapi tidak juga antusias untuk mengiyakan. Suami bilang, katanya mau naik haji bersama? Tapi karena keinginan yang begitu besar untuk pergi, akhirnya saya pun merayu suami dan akhirnya formulirsudah dikirimkan. Ternyata memang Allah belum mentakdirkan. Saya dinyatakan tidak lulus seleksi. </p>
<p>Kesempatan datang di tahun selanjutnya, saya ingin kembali mendaftar sebagai TKHI, tapi kali ini RS tempat saya bekerja tidak memberikan izin dan akhirnya batal mendaftar. Rasanya sedih sekali! Saking kecewa dan sedih dua tahun berturut-turut batal pergi haji, saya nekat untuk pergi dengan biaya sendiri memakai semua tabungan yang ada.</p>
<p>Kembali, suami tidak mengizinkan, karena dana tidak cukup untuk pergi berdua, di tambah harus menunggu 2 atau 3 tahun sementara saya tidak mau menyetor uang haji di Bank dan kemudian dana itu tersimpan sekian tahun lamanya. Akhirnya rencana untuk berhaji belum terlaksana.</p>
<p>Rencana Allah lebih indah, sampailah pada kesempatan saya harus menemani suami sekolah ke luar negeri. Harapan itu muncul dan bersemi kembali. Berhaji dari Luar negeri kan tidak pakai antri? Bias langsung berangkat, pikirku. </p>
<p>Saat itu saya katakan kembali pada suami  bahwa kita harus sudah pulang dari Mekkah sebelum pulang ke tanah air. Suami sih tenang dan senyum–senyum saja. Dia bilang, “Uang dari mana Mi? Untuk biaya hidup kita sekeluarga aja tidak cukup dari beasiswa?”</p>
<p>Tapi kali ini saya tidak mau mengalah, saya ngotot dan memaksa suami. “Kita harus niatkan dulu Bi! Azzamkan bahwa kita akan berangkat haji dari Inggris sebelum kita kembali ke tanah air. Mengenai uang dari mana tidak usah kita pikirkan. InsyaAllah jika kita niatkan maka pintu reseki itu akan terbuka dari arah yang tidak terduga.” Jelasku panjang lebar.</p>
<p>Dalam hidup apalagi urusan ibadah tidak semuanya bisa memakai rumus matematika, ilmu ekonomi atau hitung-hitungan akuntasi manapun. Niatkan, Azzamkan dan Bismillah&#8230; Selanjutnya biar Allah yang mengatur. </p>
<p>Saat kaki ini menginjakkan langkah di Inggris, saya langsung mencari informasi tentang  haji ini terutama berapa ongkos berangkat haji dari sini, saya pikir lebih murah karena jarak lebih dekat tapi&#8230; hasil pencarian informasi sungguh mengejutkan. Ongkos naik haji (ONH) dari sini bahkan lebih mahal dari ongkos ONH di tanah air. Apakah ini menyurutkan niat saya? Tentu tidak! Justru saya lebih tertantang dan semakin yakin, InsyaAllah kami akan berangkat haji dari negara ini.</p>
<p>Setiap tahun keberangkatan jamaah haji, saya selalu bertanya ke suami. “Bi, kapan kita berangkat? Bisa tahun depankah?” Dan tentu saja jawabannya hanya berupa senyum manis penuh arti.</p>
<p>Tahun ke dua di Inggris, keinginan mengunjungi Baitullah semakin menggunung tapi suami masih belum menyanggupi karena dana belum cukup. Rasa sedih yang amat mendalam melanda ketika mendengar beberapa teman Indonesia berangkat haji tahun itu. Tapi rasa sedih ini sedikit terobati karena bisa titip doa pada mereka yang berangkat, minta supaya di doakan tahun besoknya kami bisa berangkat juga. Dan setidaknya merasa bisa bermanfaat juga karena bisa membantu menemani anak mereka yang berangkat haji itu.</p>
<p>Awal tahun 2012, saya sudah cerewet menanyakan sudah cukup belum uangnya? Jadikan kita berangkat haji tahun ini? Pertanyaan ini terus saya ucapkan dan saya ulangi nyaris tiap bulan walaupun jawabannya sama, belum cukup uang, ditambah beasiswa yang habis agustus tahun ini.</p>
<p>Dengan jawaban itu tentu saja saya tidak menyerah. Saya punya keyakinan penuh bahwa saya akan mengunjungi Baitullah tahun ini, entah dari mana uangnya dan bagaimana caranya.</p>
<p>Tidak terasa Ramadhan pun datang. Saya masih berharap dengan sangat untuk bisa berangkat haji dan melaksanakan Idul adha di sana. Berdo’a dan yakin bahwa Allah akan mendengarkan dan mengabulkan entah bagaimana caranya.</p>
<p>Secara logika, kemungkinan untuk berangkat haji juga belum bisa, karena perpanjangan beasiswa yang di harapkan belum ada juga kabar beritanya. Jawaban dari suami bahwa uang untuk berangkat haji sudah ada, tapi jika kita berangkat dan uang beasiswa tidak juga ada kabar maka bagaimana dengan studi beliau. Dari mana biaya hidup? Belum lagi masalah visa yang kurang bulan dari yang disyariatkan pemerintah UK.</p>
<p>Masa berlaku visa kami yang kurang dari 6 bulan setelah pulang haji membuat travel haji yang kami hubungi menolak dan mengatakan visa kami bermasalah. Terus mencari informasi tentang travel haji, kami pun mendapatkan travel yang menerima visa kami dan mengatakan akan mencoba. Saya senang sekali walau travel ini berada di kota lain yang menggunakan transportasi kereta selama 2 jam dari kota di mana kami tinggal.<br />
Hari-hari penantian dimulai. Pada saat yang lain sudah bisa mengatakan kapan akan berangkat, kami tidak bisa mengatakan hal yang sama. Kami hanya bisa bersabar menunggu berita akan kemungkinan visa kami diterima dan visa haji kami keluar. Tapi satu hal yang pasti, saya tidak merasa gelisah, saya merasa tenang dan yakin InsyaAllah visa haji ini akan keluar.</p>
<p>Hari-hari demi hari berlalu, penantian bertambah berat karena hari H sudah semakin dekat sementara kabar tentang visa belum juga jelas. Suami juga gelisah karena ini sudah masuk 2 bulan kami hidup tanpa ada beasiswa yang artinya memakai tabungan yang ada.</p>
<p>Logikanya, jika kami jadi berangkat maka sisa uang sangat minim dan hanya bisa untuk bertahan beberapa bulan saja. Seandainya tidak jadi pergi haji maka uangnya bisa di pakai bertahan hidup lebih lama lagi di sini.</p>
<p>Dari pihak keluarga juga ada yang menyarankan. “Tidak usahlah pergi haji dulu, lebih baik uangnya dipakai untuk bertahan hidup sampai suami bisa selesai. InsyaAllah untuk pergi haji kan bisa nanti saja dari tanah air jika ada rejeki.”</p>
<p>Saya tidak bergeming. Saya katakan pada suami, bahwa ini uang sekian ribu pounsterling ada karena kita meniatkan untuk pergi berhaji dan Allah bukakan pintu rejeki itu untuk berhaji. Jika kita batalkan pergi haji, percayalah uang ini akan habis begitu saja dan saya takut tidak berkah. Ini adalah ujian. Kita harus kuat. Niat kita untuk pergi Haji dan sekarang uangnya sudah ada, mengenai biaya hidup selanjutnya, kita pikirkan setelah pulang haji. Allah itu maha kaya, InsyaAllah akan ada pula jalan untuk itu.</p>
<p>Akhirnya kabar gembira itu kami terima dalam minggu ini. Visa haji kami keluar dan InsyaAllah kami akan berangkat dalam hitungan hari ke tanah suci. Senang, terharu, dan bersyukur atas segala kemudahan dalam segala keterbatasan dan kendala yang ada.</p>
<p>Masalah lain muncul. Pergi Haji dari Inggris sangat berbeda dengan tanah air. Travel haji tempat kami mendaftar ini tidak mengadakan yang namanya manasik haji (rata-rata di sini tidak ada manasik hajinya) dan  kami juga dapat info, ternyata di sana juga kami tidak ada pembimbing.</p>
<p>Ibaratnya kami hanya di antar sampai lokasi, ada penginapan dan yang lainnya tapi pelaksanaan ibadah hajinya silahkan lakukan sendiri. PANIK! Innalillahi&#8230; Bekal ilmu masih sangat kurang. Waktu tinggal belasan hari. Apa yang harus kami lakukan? Mengeluh dan menyesal? Tidak! Kami tidak mengeluh atau menyesal dengan travel haji tersebut ,karena merekalah satu-satunya yang mau menerima dan mengurus visa haji kami dengan semua keterbatasan yang ada.</p>
<p>Dan bukankah pinta saya sama Allah juga supaya bisa berkunjung dan beribadah ke Baitulloh? Dalam keterbatasan ilmu dan waktu yang ada, saya kembali berdoa pada Allah, semoga kami diberikan kemudahan, kelapangan, dan keiklasan serta kekuatan dalam menjalankan ibadah haji ini dan segala amal ibadah di sana diterima oleh Allah SWT.</p>
<p>Ketika segala kesulitan dan ketidakmungkinan itu bisa terkalahkan, maka kendala yang satu ini tentu tidak akan mengalahkan saya. Tapi itu semua butuh bantuan doa dari orang-orang terdekat, sahabat, dan semua muslim yang mendoakannya. Untuk itulah saya melalui kado ini minta tolong di doakan agar selalu diberikan kemudahan oleh Allah Swt dalam segala hal.</p>
<p>Satu hal yang mengejutkan saya adalah, ketika seorang adik mengatakan terharu dan menangis ketika mendengar berita saya akan pergi naik haji dari Inggris ini. Adik ini mengatakan bahwa hampir seluruh keinginan saya terpenuhi. Saya sudah keliling eropa (dalam hal ini inggris) dan sekarang saya akan ke Mekah. </p>
<p>Awalnya saya tidak mengerti, lalu dia bilang bahwa dia baca semua itu di facebook saya. Akhirnya saya buka facebook saya dan klik ‘<em>about</em>’.  Subhanalloh&#8230; ternyata di bagian about di facebook saya menuliskan keinginan saya dengan harapan banyak orang yang membaca dan mengaminkannya.</p>
<p>Sekarang saya menyadari, bahwa keluarnya visa haji kami dan proses keberangkatan haji kami ini bisa jadi karena do’a dan keinginan saya yang di aamiinkan oleh teman–teman di FB yang berjumlah 1000an lebih itu. Di sini saya membuktikan dan menyakini, bahwa hal yang mungkin kita menuliskannya dengan ringan atau tidak terlalu menganggap serius, bisa jadi itu adalah doa yang akan menggerakkan alam semesta untuk mewujudkannya.</p>
<p>Jadi saudaraku, jangan takut untuk bermimpi setinggi apapun, jangan takut menggantungkan harapan setinggi apapun apalagi menyangkut dengan ibadah kita. Jangan pernah menuliskan hal yang buruk di manapun termasuk di dunia maya, karena akan membuat orang lain tidak nyaman dan membuat alam semesta bekerja mewujudkannya. Karena bukankah Allah itu sebagaimana prasangka HambaNya?</p>
<p>Satu hal penting saya petik juga adalah, janganlah terlalu berpikir secara matematika dan logika dalam materi dan memandang masa depan. Yakinlah Allah itu maha kaya dan pintu rejeki itu ada banyak sekali.</p>
<p>Buatlah cita-cita dan harapan setinggi mungkin, bekerja dan berkaryalah. Tentu bekerja di jalan Allah dan menegakkan kalimat-NYA  adalah sebaik-baik pekerjaan. Berdo’a dan serahkan selanjutnya pada Allah SWT.<br />
Jangan terlalu memikirkan dunia, karena dunia ini ibarat air laut yang jika di minum akan semakin menambah rasa haus dan dahaga.</p>
<p>Untuk semua saudaraku yang sudah berniat untuk menunaikan ibadah haji. Kuatkan kembali niat tersebut. Yakinkan diri, kuatkan Azzam dan bekerja serta berdo’alah. Jangan terpuntir oleh gemerlap dunia ataupun keraguan akan masa depan yang belum tentu kita akan menjalaninya.<br />
Semoga Allah mudahkan urusan semuanya untuk bisa menunaikan ibadah haji  dan urusan lainnya yang menjadi keinginan diri saya dan saudara seiman semua. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ( Asy-Syu’ara’ :220)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiopengajian.com/2012/10/16/proses-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayah, Jumpalah Kita Walau Hanya Dalam Mimpi</title>
		<link>http://radiopengajian.com/2012/10/15/ayah-jumpalah-kita-walau-hanya-dalam-mimpi/</link>
		<comments>http://radiopengajian.com/2012/10/15/ayah-jumpalah-kita-walau-hanya-dalam-mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2012 04:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kreatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bingkai Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kado dari Kru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiopengajian.com/?p=2094</guid>
		<description><![CDATA[12 Oktober 2012 &#124; 26 Dhul-Qadah 1433 H Oleh: Wawan Kurniawan &#8211; Anggota Divisi Humas 2012-2013 Sejak aku memasuki Madrasah Ibtidaiyah atau paling tidak ketika aku mulai mempelajari dan mengenal agamaku sendiri, aku sangat ingat apa yang diajarkan oleh guru agamaku, sebuah nasihat yang penting yang terus tertanam dibenakku hingga kini. “Surga itu dibawah telapak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://radiopengajian.com/wp-content/uploads/2012/10/SAM_0012.jpg"><img src="http://radiopengajian.com/wp-content/uploads/2012/10/SAM_0012-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-2095" /></a></p>
<p>12 Oktober 2012 | 26 Dhul-Qadah 1433 H<br />
Oleh: Wawan Kurniawan &#8211; Anggota Divisi Humas 2012-2013</p>
<p>Sejak aku memasuki Madrasah Ibtidaiyah atau paling tidak ketika aku mulai mempelajari dan mengenal agamaku sendiri, aku sangat ingat apa yang diajarkan oleh guru agamaku, sebuah nasihat yang penting yang terus tertanam dibenakku hingga kini.  </p>
<p>“Surga itu dibawah telapak kaki ibu, siapa yang ia kehendaki maka akan dimasukkan dan siapa yang ia ingini maka akan dikeluarkan.” (Silsilah al-hâdîts adh-Dha’îfah, no. 593). Walau hadits itu dhoif (palsu/sangat tidak kuat sanadnya) tapi setidaknya itulah yang memotivasiku untuk terus berkarya untuk ibuku, dahulu kini dan nanti.</p>
<p>Begitupun dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anh berkata: Seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik &#8211; baiknya? Rasulullah menjawab: Ibumu. Kemudian dia bertanya lagi: Siapa lagi? Ibumu, pungkas Rasulullah. Kemudian dia bertanya kembali: Lantas, siapa lagi? Rasulullah menjawab: Ibumu. Dan dia bertanya lagi: Kemudian siapa lagi ya Rasulullah. Rasulullah menjawab: Ayahmu. </p>
<p>Banyak dalam terjemahan Alqur’an kata “walidain” itu diterjemahkan sebagai ibu bapakmu. Ibu dulu baru kemudian bapak. Aku pun berkesimpulan orang yang harus kuhormati terlebih dahulu adalah ibuku. Pun setelah aku mengenal ilmu lainnya, aku juga mengenal beberapa kata yang mengandung kata ibu.</p>
<p>Dalam Geografi, aku mengenal ibukota<br />
Dalam Kimia, aku mengenal struktur ibu.<br />
Dalam PPKN, aku mengenal ibu pertiwi<br />
Dalam Biologi, aku mengenal ibu jari.<br />
Banyak hal yang mensugestiku, untuk ada dalam pikiranku: Ibu, Ibu, Ibu dan Ibu&#8230;.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan Sosok Ayah???</strong><br />
Lantas, bagaimana sosok ayah yang belum kukenal banyak, kupastikan aku memang jarang bertemu ayah dibandingkan intensitasku bertemu dengan ibu, lantaran ibuku ada dirumah, sedangkan ayahku bekerja diluar rumah dan pulang ketika kami telah sama–sama letih untuk berbicara satu sama lainnya. </p>
<p>Aku memang sejatinya belum terlalu mengenal ayahku seperti apa. Haruskah aku belajar 144 SKS atau sampai harus menempuh tingkat doktorkah untuk mengenal ayahku?</p>
<p>Ini, mungkin kesimpulanku tentang ayahku…<br />
Mungkin ibu lebih kerap menelepon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku? Semasa kecil, ibukulah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tahu  bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena saking letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku.</p>
<p>Saat aku sakit demam, ayah membentakku &#8220;Sudah diberitahu, Jangan minum es!&#8221; Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis didepan ibu. Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.</p>
<p>Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata “Tidak boleh!&#8221; Sadarkah aku, bahwa ayahku hanya ingin menjaga aku, beliau lebih tahu dunia luar, dibandingkan aku bahkan ibuku? Karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga.</p>
<p>Saat aku sudah dipercayai olehnya, ayah pun melonggarkan peraturannya. Maka kadang aku melanggar kepercayaannya. Ayahlah yang setia menunggu aku diruang tamu dengan rasa sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengontak beberapa temannya untuk menanyakan keadaanku, dimana, dan sedang apa aku diluar sana.</p>
<p>Setelah aku dewasa, walau ibu yang mengantar aku ke sekolah untuk belajar, tapi tahukah aku, bahwa ayahlah yang berkata: Ibu, temanilah anakmu, aku pergi mencari nafkah dulu buat kita bersama.</p>
<p>Disaat aku merengek memerlukan ini &#8211; itu, untuk keperluan kuliahku, ayah hanya mengerutkan dahi, tanpa menolak, beliau memenuhinya, dan cuma berpikir, kemana aku harus mencari uang tambahan, padahal gajiku pas-pasan dan sudah tidak ada lagi tempat untuk meminjam.</p>
<p>Saat aku berjaya. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Ayahlah yang mengabari sanak saudara, anakku sekarang sukses. Walau kadang aku cuma bisa membelikan baju koko itupun cuma setahun sekali. Ayah akan tersenyum dengan bangga. Dalam sujudnya ayah juga tidak kalah dengan doanya ibu, cuma bedanya ayah simpan doa itu dalam hatinya.</p>
<p>Sampai ketika nanti aku menemukan jodohku, ayahku akan sangat berhati &#8211; hati mengizinkannya. Dan akhirnya, saat ayah melihatku duduk diatas pelaminan bersama pasanganku, ayah pun tersenyum bahagia.</p>
<p>Lantas pernahkah aku memergoki, bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis? Ayah menangis karena ayah sangat bahagia. Dan beliau pun berdoa, &#8220;Ya Alloh, tugasku telah selesai dengan baik. Bahagiakanlah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya.&#8221;<br />
Tahukah kalian, bahwa ayahlah yang pertama kali mempunyai rambut uban.</p>
<p>Kuakhiri tulisanku dengan sebuah bait lagu:<br />
Dimana, akan kucari<br />
Aku menangis seorang diri<br />
Hatiku, selalu ingin bertemu<br />
Untukmu, aku bernyanyi</p>
<p>Lihatlah, hari berganti<br />
Namun tiada seindah dulu<br />
Datanglah, aku ingin bertemu<br />
Untukmu, aku bernyanyi</p>
<p>Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi<br />
Dengan airmata di pipiku<br />
Ayah, dengarkanlah<br />
Aku ingin berjumpa<br />
Walau, hanya dalam mimpi.</p>
<p>Dalam kesendirianku, untuk ayahku di Pamulang sana…<br />
@bie, Korea Selatan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiopengajian.com/2012/10/15/ayah-jumpalah-kita-walau-hanya-dalam-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bergegaslah Untuk Mereka</title>
		<link>http://radiopengajian.com/2012/10/04/bergegaslah-untuk-mereka/</link>
		<comments>http://radiopengajian.com/2012/10/04/bergegaslah-untuk-mereka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Oct 2012 04:41:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kreatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bingkai Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kado dari Kru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiopengajian.com/?p=2075</guid>
		<description><![CDATA[28 Agustus 2012 &#124; 12 Dhul-Qadah 1433 H Oleh: Suly Bungsu Kasmaja &#8211; Anggota Divisi Kreatif 2012-2013 Apalagi yang mau di banggakan pada manusia bahkan dihadapan Tuhan sekalipun, jika untuk berbakti kepada orang tua saja terkadang kita masih berhitung. Tidak untuk menampilkan bahwa diri ini adalah seorang yang paling berbakti tetapi sekedar ingin mengingatkan kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://radiopengajian.com/wp-content/uploads/2012/10/image_1349103709980798.jpg"><img src="http://radiopengajian.com/wp-content/uploads/2012/10/image_1349103709980798-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-2076" /></a></p>
<p>28 Agustus 2012 | 12 Dhul-Qadah 1433 H<br />
Oleh: Suly Bungsu Kasmaja &#8211; Anggota Divisi Kreatif 2012-2013</p>
<p>Apalagi yang mau di banggakan pada manusia bahkan dihadapan Tuhan sekalipun, jika untuk berbakti kepada orang tua saja terkadang kita masih berhitung. Tidak untuk menampilkan bahwa diri ini adalah seorang yang paling berbakti tetapi sekedar ingin mengingatkan kembali bahwa kita terlahir karena takdir Alloh subbhanahu wata&#8217;alla melalui perantara kedua orang tua kita-ayah dan ibu kita. Mengapa saya begitu mudah menangis ketika ada sebuah ceramah agama yang pembahasannya mengenai birrul walidain, bukan karena saya anak yang paling berbakti melainkan karena saya masih jauh dari sikap bakti ini. Banyak nasihat mengenai hormat pada orang tua, mengenai sikap rendah hati dihadapan orang tua, tetapi hal itu tidak mudah. Tidak menutup mata, bahwa seringnya justru kita bertolak belakang dengan orang tua, baik secara prinsip atau hal sepele sekalipun. Tapi itulah kenyataan. Banyak hal yang pada akhirnya kita pantas untuk mengalah jika kita tidak ingin dicap sebagai anak pembangkang. Walaupun kadang prinsip orang tua bertentangan dengan syariat, namun sebagai anak yang baik tetaplah harus bersikap santun. </p>
<p>Teringat kisah Nabi Ibrahim yang tetap menjaga Marwah, Ayah beliau disaat nabi Ibrahim akan dilemparkan di perapian. Nabi Ibrahim berdoa agar ayahnya dapat mengangkat tubuhnya yang tidak seorangpun mampu mengangkatnya dan melemparnya kedalam api pembakaran. Dan ayah nabi Ibrahim adalah orang yang sangat menentang kepada tauhid agama Ibrahim. Tetapi pada saat ayah Ibrahim akan mengangkat tubuh nabi Ibrahim untuk dilempar, maka nabi berdoa kepada Alloh agar ayahnya tetap dijaga martabatnya dengan membuat ringan tubuh nabi Ibrahim.</p>
<p>Sekejam-kejamnya dan sedurhakanya orang tua kita, tetaplah kewajiban anak untuk menghormatinya, mendoakan kebaikannya. Sekalipun kita tak sepaham dengan mereka. Ibu dan ayah kita seringkali mengorbankan banyak waktunya hanya untuk kebahagiaan anak-anaknya, tetapi sebaliknya sudah berapa waktu yang telah kita persembahkan untuk orang tua kita? Kita terlampau asyik dengan dunia kita, dunia yang katanya untuk masa depan, masa depan yang mana? Bahkan kita tak pernah tau apa yang akan terjadi satu detik di hadapan kita bukan? Ya benar tak ada seorangpun yang mampu mengetahui masa dihadapan kita. Karenanya selagi masih banyak kesempatan saat ini yang diberi, maka cobalah tatap wajah ibu kita, wajah ayah kita. Sudah setua apakah mereka saat ini, masihkah wajahnya secantik dulu, masihkah ayah kita setampan dulu? jangan pernah kita terlampau sibuk dengan urusan dan masalah kita lantas kita lupa, bahkan untuk sekedar <em>say hello</em>, sekedar menanyakan &#8220;Ibu/ayah, sudah makan?&#8221; Dahulu ibu/ayah kita sibuk dan kawatirnya sampai harus bertanya berulang kali &#8220;Nak,jangan lupa makan ya?&#8221;</p>
<p>Ya Rabb, saya adalah anak dari ibuku, putri dari ayahku. Maka hamba mohon, muliakanlah akhir hidup mereka ya Alloh&#8230;</p>
<p>Jika saat ini kita terlupa, maka kita akan sama-sama ingat kembali. Bahwa kewajiban anak adalah tetap mendoakan, memuliakan, menghormati, menyayangi, mencintai kedua orang tua kita setelah Alloh dan Rasul.</p>
<p>Kita bahkan tidak pernah menyadari bahwa setiap detik orang tua tak pernah berhenti mendoakan kita, sekalipun kita telah memiliki keluarga. Ibu masih tetap kawatir, ayah tetap kawatir apakah kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita-cucu mereka. Apakah istri atau suami kita memperlakukan kita dengan baik, apakah kehidupan rumah tangga kita tentram tanpa masalah. Semuanya masih dikawatirkan oleh orang tua kita. Maka ingatlah saya saat ibuku mengatakan:<br />
&#8220;Kamu baru akan mengerti setelah kamu menjadi orang tua.&#8221;<br />
&#8220;Orang tua akan rela lapar asalkan anak-anaknya makan.&#8221;</p>
<p>Jika ada sedikit hal yang bersebrangan dengan orang tua kita, maka ingatlah banyak hal tentang kebaikannya. Karena kita tidak pernah tau apakah mereka masih akan tinggal lebih lama bersama kita ataukah detik ini akhir perjumpaan dengan mereka, maka segeralah genggam tangan ibu, tangan ayah kita dan katakan:<br />
&#8220;Ayah, ibu aku mencintaimu, terimakasih telah melahirkanku dan merawatku hingga sebesar ini.&#8221;</p>
<p>Jika orang tua kita ada yang sudah tiada maka jangan sekalipun lupa mendoakannya.<br />
&#8220;Ya Rabb, tempatkan ayah/ibuku disisi orang-orang yang mencintai-Mu dan lapangkanlah kuburnya, semoga Engkau terima amal ibadahnya sebagai teman di alam kuburnya.&#8221; Aamiin.</p>
<p>Salam cinta untuk seluruh orang tua di dunia ini<br />
#dedikasi untuk Mboke &amp; alm.bapak </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiopengajian.com/2012/10/04/bergegaslah-untuk-mereka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
